... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Saturday, July 14, 2007

Vino

Vino, anjing berbulu coklat dengan sedikit putih di leher kanannya, milik pak Bambang, tetanggaku, suatu kali sakit. Oleh Gatot, anaknya pak Bambang, dibawa ke dokter hewan. Dokter memberinya sejenis obat cair kental berwarna hitam dan agak berbau amis. Sehari dua kali harus diminum Vino.
Tadi pagi aku dengar Vino mengaing-ngaing. Kulongok dari jendela. Tampak pak Bambang sedang berusaha keras memberi Vino obat. Vino meronta-ronta. Pak Bambang menjepit tubuh anjing itu dengan kedua kakinya. Tangan kanan berusaha membuka mulut Vino, tangan kiri memegang obat.
Obat itu tumpah. Pak Bambang jengkel, Vino disepaknya. Anjing itu berlari menjauh. Sekitar setengah jam kemudian, kulihat Vino sedang menjilat-jilat tumpahan obat itu. Asyik sekali dia. Dalam sekejap tumpahan obat itu ludes.
Jelaslah, Vino bukan menolak obatnya. Yang dia tolak adalah cara pak Bambang memberinya obat. Cara menyampaikan sesuatu, memang tidak kalah pentingnya dari sesuatu yang akan disampaikan. Tidakkah begitu?