... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Tuesday, August 18, 2009

Kedamaian..

Di luar cukup kelam, mendung menghiasi langit kota. Jalanan yang biasanya amat ramai, kini terasa sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat sambil melemparkan cahaya lampunya ke atas aspal yang lengang. Aku duduk di sebuah kedai, ditemani secangkir kopi, bersama seorang teman yang cukup lama tak pernah bersua. Sayup-sayup alunan suara dari Panbers menemani kami. Suasana lembut, amat lembut.

Malam itu kami
ngobrol lumayan panjang. Tentang kesedihan. Tentang musibah. Tentang kemanusiaan. Tentang derita dan keputus-asaan. Tentang alam, manusia dan Tuhan. Tentang apa saja yang terlintas di pikiran kami. Filsafat yang mengalir untuk berupaya memahami kehidupan kami. “Kita tak pernah belajar untuk menggunakan hati kita” katanya, “Kita lebih senang menggunakan otak kita. Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya, kita diberi kebebasan untuk memilih, dan kita lebih senang memilih untuk memalingkan diri dari jalan-Nya. Kita ingin menempatkan Tuhan di depan kita untuk memimpin kita dan bukannya berpaling kepada-Nya....”


Aku kira, persoalan bukanlah karena kita lebih memilih berpaling dari-Nya. Seringkali hidup memaksa kita untuk tidak punya pilihan-pilihan. Seringkali kita tak mampu untuk memilih jalan yang harus kita tempuh. Penderitaan kita terbentuk dari lingkungan kita, yang sering tak bisa kita kendalikan secara utuh. Terlebih jika kita melulu hanya menggunakan hati dan perasaan. Hati dan perasaan kadang menjadi sedemikian menekan jiwa, sehingga satu-satunya jalan adalah dengan berpikir jernih untuk menerima apa yang sedang kita alami. Ya, hidup seringkali tidak sesederhana kata-kata indah, ucapan-ucapan penghibur hati dan perasaan belas kasih. Karena kita harus mengalami dan pengalaman itu sering kali amat menekan hati dan perasaan kita. Menekan jiwa kita.


Udara malam yang cukup dingin. Pekatnya langit. Jalan yang sepi. Alunan lagu. Secangkir kopi hangat yang mengepulkan asap. Tiba-tiba aku merasa bahagia karena berada di tempat dan suasana saat itu. Karena aku tahu bahwa, ada banyak, ya ada banyak mereka yang pada saat yang sama, hanya bisa pasrah tak berdaya dalam kesunyian hatinya. Ada banyak mereka yang saat itu tak punya rumah, meringkuk kesepian, sedang mengalami bencana peperangan yang tak diinginkannya. Mereka yang sedang kelaparan dan terlunta dalam kepahitan akibat pemaksaan, kebohongan, kelemahan dan ketidak-berdayaan. Dan itu semua adalah proses mengalami, bukan hanya dalam kata-kata yang tertulis di koran atau majalah yang bisa kita beli dengan mudah di tepi jalan.

Aku memandangnya. Dan aku sadar bahwa semua pengalaman dari mereka-mereka yang menderita dan tertindas mungkin saja menimbulkan rasa iba dan belas di hati kita. Tetapi tetap saja berbeda antara yang mengalami dan yang mengetahui. Karena dengan hanya mengetahui, tanpa terlibat langsung dalam persoalan-persoalan kehidupan itu, kita selalu punya pilihan untuk mengelak. Kita selalu punya pilihan untuk menghindar. Kita bebas untuk memilih, namun ada banyak, ya ada banyak mereka yang tak punya pilihan lain selain dari menghadapi dan menerima penderitaan itu. Ya, tak ada pilihan lain. Maka sungguh sulit untuk bisa memahami penderitaan orang lain tanpa kita sendiri pernah mengalaminya. Luar biasa sulitnya jika bukannya mustahil.
“Kita tidak mendengarkan-Nya dengan hati. Mari kita gunakan hati kita. Kita gali hati kita untuk mendapatkan-Nya kembali...” katanya kembali. Ya, kita harus mendengarkan hati kita sendiri. Namun kita juga harus memikirkan dan mempertimbangkan banyak kemungkinan yang tidak melulu dari kepentingan kita sendiri. Hidup tidaklah sekedar hanya dengan perasaan. Jika itu yang kita jalankan, maka kita akan tenggelam dalam ruang tertutup dengan pintu-pintu yang terkunci. Saksikanlah penderitaan, rasakanlah kesakitan yang terjadi, kesakitan yang bukan hanya pada tubuh namun terutama pada jiwa yang tak berdaya berbuat apa-apa. Mereka yang dibohongi, mereka yang ditinggalkan dan disia-siakan. Mereka yang tenggelam dalam kesunyian hidup karena tak punya apa-apa untuk bangkit.

Aku menghirup kopiku yang mengepul. Suatu perasaan hangat dan puas mengarungi tubuhku. Di sini aku merasa aman, nyaman dan menikmati segala apa yang tersedia bagiku. Ruang yang lega, alunan lagu, cahaya yang remang-remang. Suasana santai yang nyaman. Aku merasa bebas dari derita. Bebas dari ketidak-nyamanan udara malam yang terbuka. Tiba-tiba aku berpikir: “Ah, seseorang yang tak pernah merasa kekurangan, mampukah merasakan kekurangan orang lain? Seseorang yang tak bersedih, mampukah merasakan kesedihan orang lain? Seseorang yang tak pernah menderita, mampukah merasakan penderitaan orang lain?...” Tuhan memang tidak pernah membiarkan kejahatan terjadi. Manusialah yang membiarkannya. Dengan melakukannya. Dengan bersikap tak peduli. Dengan melupakannya. Manusia yang merasa dirinya mewakili Tuhan. Manusia yang bersikap sebagai Tuhan. Jalanan makin sepi. Pulang..