... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Saturday, October 15, 2011

Esem...

Sedulur... wingi sliramu teka kanthi kebak ing sambat. Dina iki sliramu sambat maneh. Aku bisa paham apa sing mbok rasakake, utamane nalika sliramu menehi esem. Ya, menehi esem sing mbok anggep paling endah, marang kancamu. Nanging sing mbok tampa minangka piwalese mung sawijining sikep kang adhem. Aku ngerti yen sliramu nesu, kepara sengit marang kancamu sing nduweni polah sing kaya mangkono. Aku paham yen sliramu ngarepake supaya dheweke mbales kanthi sikep sing trep, sak ora-orane ya mbales kanthi esem, najan dudu esem sing paling endah.

Sakjroning lara atimu, sliramu sumpah, "Tobat, aku ora arep kekancan maneh karo dheweke. Ora pantes dak dadekake kanca !" Lan sliramu getem-getem muntab, kaya-kaya arep nguncalake dheweke nang panggon uwuh. Sliramu ngarepake supaya dheweke ilang saka panyawange netramu. Sliramu mikir gampang ngowahi kekancan pindha molak-maliking tangan. "Apa isih ana pasrawungan raket kang awet?" sliramu isih wae takon marang atimu dhewe.

Sedulur... aja gampang nesu. Dheweke ora mbales esemu bisa wae merga dheweke lagi ora bisa mesem. Ana kedadeyan utawa perkara kang dumadi marang dheweke sing ya mung dheweke dhewe sing mangerteni. Mbok menawa wae dheweke wingi ora ngati-ati, banjur kesandhung lan njarem sikile. Mbok menawa dheweke wingi wis sinau kanthi direwangi lek-lekan nanging bijine tetep ora maremake. Mbok menawa atine isih rinujit nalika wong sing ditresnani ngaturake salam pisah. Isih akeh "mbok menawa" sing ndadekake dheweke ora bisa mesem kanggo mbales esemu.

Sedulur... sliramu isih bisa mesem. Isih bisa ngguyu. Wenehana esem marang dheweke. Dadia pindha saklariking sunar pepadhang rikala dheweke ana jroning petenging wengi. Apuranen dheweke menawa dheweke durung bisa asung esem marang sliramu rikala iki.

Friday, July 8, 2011

Es teh tawar

Saat itu aku sedang berada di tempat makan bakmi ayam di seputaran stadion bersama beberapa temanku. Aku sedang tidak ingin minum yang manis.

“Es teh tawar, jangan manis ya bu”, pesanku kepada ibu penjual bakmi.

“Tidak ada mas, adanya es teh manis”, jawab ibu itu.

Kemudian temanku melihat ke arahku seakan bingung dan aku pun terus terang bingung juga, kok es teh tawar tidak ada, tapi es teh manis ada ?

Temanku menyahut, "gini bu, waktu buat es teh, jangan dipakaikan gula, jadi nggak manis".
Tapi si ibu ini tetap bilang, "nggak bisa mas, pasti manis".

Kemudian logikaku berpikir, mungkin dia sudah membuat dalam jumlah banyak dan sudah dicampur gula, jadinya semuanya manis.

Karena penasaran temanku bilang, "Tolong deh bu, bawa kesini tehnya, kami ingin lihat cara buatnya".

Si ibu ke dalam dan kembali dengan beberapa buah gelas berisikan es batu dan beberapa botol ‘Teh Botol’. Mengertilah kami, dan kami pun tertawa akan hal ini, ternyata es teh itu yah ‘teh botol’ itu, ya... otomatis manis, gimana buat jadi nggak manis.

Kami katakan kepada ibu, “bilang dong bu, kalau ini teh botol namanya, jadi kami mengerti kenapa nggak bisa nggak manis”. Lalu kami meminumnya dan menyantap bakmi ayam itu.

Kadang kala kita ingin memaksakan suatu kehendak kepada orang lain, seperti halnya sewaktu saya ingin meminta eh teh tawar itu, kita sudah punya pikiran sendiri bagaimana es teh itu dibuat. Tapi dilain hal ternyata yang tersedia itu justru teh yang sudah dalam kemasan botol. Apa yang ternyata kita pikirkan itu berbeda sekali dengan apa yang ada.

Dalam berdoa kita juga sering memaksakan kehendak kita dan merasa kecewa jika doa kita tidak terkabul, seperti seseorang yang curhat padaku beberapa waktu lalu, dimana dia mendoakan kesehatan ayahnya, dan ia rela memberikan setengah umurnya kepada kehidupan sang ayah. Tapi ternyata sang ayah meninggal, dan dia kecewa kepada Tuhan kenapa Tuhan tidak mendengarkan doanya padahal ia telah memberikan setengah umurnya untuk umur sang ayah.

Temanku mungkin beranggapan ia bisa mengatur melalui doa yang ia panjatkan tapi kehendak Tuhan berbeda, mungkin saja si ayah itu juga berdoa hal yang sama, sehingga si ayah rela memberikan juga umurnya untuk anak-anaknya, dan semuanya itu kembali kepada kehendak Tuhan.

Pengeran iku sing paling kuwasa, tetepa nenuwun kanthi lembahing ati..

Friday, May 20, 2011

Pacar Atheis (joke)

Seorang ibu katolik semula menolak keras anak gadisnya pacaran dengan pria atheis. Ia kuatir, anak semata wayang yang pintar menjual itu bakal keseret jadi atheis.
Ketika sang anak merajuk lagi supaya diijinkan melanjutkan hubungannya, sang ibu punya ide brilian :

"Baiklah, kau boleh pacaran, asal bujuk dia masuk katolik," kata sang ibu.
"Kalau dia mau masuk katolik..." kata si anak setengah bergumam.
"Kamu boleh kawin dengannya. Dan ingat, jangan tangung-tanggung meyakinkan orang atheis," sambung sang ibu.

Begitu mendapat restu, si anak tambah semangat menjual gagasan katolik pada sang pacar, si pria atheis menampakkan rasa tertarik pada jualan pacarnya, dan sang ibu makin yakin ide mengkatolikkan pria atheis itu bakal jadi kenyataan.

Suatu hari, menjelang hari H perkawinan mereka, si gadis pulang ke rumah dengan mata berlinang,

"Ada apa sayang? semua sudah oke, kan ?" tanya si ibu.
Sang anak menjawab sambil terisak, "Bubar semua deh! Gara-gara aku gencar menjual gagasan katolik, sekarang dia malah memutuskan jadi Pastur !"

sorry, repost, just for joking :D

Tuesday, April 26, 2011

Hastinapura makin kelam

Duryudana, pemimpin tertinggi negri Hastinapura, kemarin tiba-tiba muncul dalam berita sebuah situs berita online terkemuka negri. Beliau diberitakan sedang memimpin rapat kabinet kerajaan sambil seolah menunjukkan kepada seantero negri bahwa beliau masih eksis dan sehat. Memang beberapa waktu akhir-akhir ini beliau sepertinya menghilang, sepi dari pemberitaan media. Mantan jendral angkatan perang Hastinapura yang semasa kampanye dulu membawa slogan "TERUSKAN !" akhirnya setelah berhasil menjabat, benar-benar melaksanakan slogannya tersebut. Beserta jajarannya, beliau benar-benar "meneruskan" keruwetan tata pemerintahan negri Hastinapura yang sudah terlanjur semrawut sejak periode pertama beliau menjabat.

Rata-rata media nasional maupun lokal Hastinapura lebih ramai mewartakan tentang tokoh "cerdas" berpostur kerempeng, Arya Sangkuni, yang kebagian posisi memimpin Dewan Kerajaan, yang makin tidak menentu ucapan maupun pernyataan-pernyataannya. Apalagi setelah ditentang banyak kalangan dalam kengototannya membangun gedung baru bagi lembaga yang dipimpinnya. Tokoh ini sedikit menurun pamornya dalam media setelah salah seorang anggota lembaganya, Durmagati, membuat sensasi dengan menonton adegan bilm forno (BF) melalui gadget-nya ditengah sidang dewan kerajaan.

Tak kalah sensasional meramaikan kehebohan negri berikutnya adalah Dewi Krepi, istri Durna. Perempuan berparas biasa yang dengan ajian Salinrogo bisa merubah fisik dirinya menjadi sosok seksi nan montok. Dia bekerja pada sebuah bank dengan jaringan internasional namun justru menyalahgunakan kewenangannya untuk mengibuli banyak nasabah demi keuntungan pribadinya, bahkan sempat tersiar kabar banyak nasabah korbannya yang berasal dari institusi lingkar kerajaan, istilah sebelumnya adalah "senapati berekening gendut". Tetapi, kehebohan Dewi Krepi ini hanya berlangsung sesaat, karena segera dilibas oleh kabar yang meninabobokan para kawula. Yaitu tentang Citraksi, prajurit punggawa keamanan berpangkat briptu yang bergoyang ala Hindustan, negri sesepuh para wayang.

Sebuah organisasi non kerajaan yang selama ini mengurusi hiburan murah nan merakyat, bola sepak, seolah tak mau ketinggalan dalam menyumbang kekisruhan negri. Dursasana, sang pemimpin yang sudah berulang kali bolak-balik penjara akhirnya lengser secara paksa. Kahyangan sudah tidak menghendaki kepemimpinannya. Namun antek Dursasana terlanjur mengakar dan merajalela. Meski Citrakandha, sang sekjen, telah berusaha (seolah-olah) elegan mengundurkan diri, namun banyak anak buahnya yang tak rela dengan kondisi suksesi ini berjalan lancar. Mereka berlomba mencari (sekaligus mengaku-ngaku punya) akses ke kahyangan untuk meminta petunjuk penghuni langit. Dewan kahyangan akhirnya menunjuk beberapa wayang untuk menjadi Komite Penormalan. Tapi lagi-lagi komite ini juga mendapat mosi tidak percaya karena petunjuk dewa tidak selaras dengan yang diinginkan 78 pemilik (penyambung) suara Dursasana.

Semetara itu Adipati Karna, komandan punggawa keamanan kerajaan kembali dibuat pusing dengan munculnya lagi teror bom yang mengguncang negri. Senapati berkumis tebal itu tak habis pikir apa sebenarnya yang dimaui oleh para orang-orang konyol yang menebar teror berkepanjangan, apalagi beberapa waktu silam prajuritnya ada yang sudah kehilangan tangannya akibat bom buku. Lagi-lagi angin pemberitaan meliuk tajam, kabar teror bom tersebut segera menenggelamkan berita tentang nasib kawula yang sedang disandera perompak di Jazirah Banakeling, negri di barat dunia wayang yang berbatasan dengan Kerajaan Samudra.

Ketika dicegat para juru warta istana untuk dimintai tanggapannya tentang kekisruhan negri yang berlarut-larut, Baginda Prabu Duryudana hanya berhenti sesaat dan berkata pelan,

"Maaf, saya lagi sibuk mempersiapkan pernikahan putraku dengan putri senapati berambut putih itu,dan tentang keruwetan negara ini, saya sudah berkali-kali menyampaikan melalui media, yaitu SAYA PRIHATIN !"

-------------

Gendhing monggang mengalun pelan seiring meredupnya blencong..


*gambar nyolong dari Jawapos

Thursday, March 24, 2011

Sedikit hati...

Seorang gadis remaja yang baru datang dari daerah pegunungan selatan. Baru pertama kali ini ia menggunakan jasa angkutan umum di kota ini dengan sistem pembayaran baru. Identifikasi tiket kendaraan itu dengan memasukan selembar kartu pada mesin sensor. Bila kartunya dimasukan secara terbalik, maka mesin akan berdering pertanda bahwa harga tiket belum terbayar. Karena itu sang gadis ini memperhatikan secara seksama bagaimana orang-orang menggunakan mesin tersebut.

Di sela-sela itulah, ia melihat sepasang manusia, seorang anak putri dan ibunya yang sudah ubanan. Derap langkah sang ibu tertatih pertanda bahwa ia telah lanjut dimakan usia. Tentu saja ia tak memiliki cukup tenaga. Tangan dan kakinya gemetar ketika menaiki anak tangga bus kota tersebut. Tapi anehnya, anak tersebut terus mendesak dari belakangnya,

“Cepat naik...!! Lambat betul sih.”

Sang gadis kampung yang baru datang dari gunung itu kini terpana. Tak pernah ia mendesak ibunya secara demikian. Tak pernah ia berlaku kasar terhadap ibunya. Ia pasti akan menuntun ibunya, memegang tangannya yang telah keriput agar ia dengan selamat masuk ke dalam bus. Tapi huh bengisnya anak ini. Demikian pikirnya.

Ternyata itu belum cukup. Sang ibu tak tahu bagaimana harus menggunakan kartu tiket, ia tak tahu bagaimana harus memasukan tiket itu ke dalam mesin. Mesin sensor tak henti-hentinya berteriak mengatakan bahwa sang ibu tua itu belum membayar. Tapi anehnya, sang anak hanya memandang dingin bagaimana sang ibunya harus berhadapan dengan kenyataan ciptaan teknologi yang tentu saja tak pernah ada dalam hidupnya sebelumnya. Tangan yang keriput dan gemetar itu terus dipermainkan mesin beku tersebut tanpa memperoleh bantuan.

Kenyataan ini seakan mengiris batin gadis kampung tersebut. Ia terkejut. Hatinya memberontak, hatinya menjerit. Ia ingin membantu sang ibu tersebut, namun ia sendiri belum begitu paham bagaimana harus menggunakan mesin tersebut. Ia sedang belajar. Anehnya semua orang lain yang ada dalam bus kota inipun seakan mati, seakan buta, seakan tak melihat betapa pedihnya sang ibu dipermainkan mesin tersbut. Beginikah manusia hasil ciptaan teknologi canggih? Beginikah manusia metropolitan yang seakan berubah beku? Beginikah manusia kota yang seakan telah kehilangan sebongkah hati?

Huh... kalau seandainya kita cukup menggunakan sedikit hati... Menggunakan sedikit hati mengulurkan tangan membimbing sang ibu menaiki tangga bus ini... Seandainya kita menggunakan sedikit hati untuk mengatakan kepada sang ibu bahwa kartu yang dimasukan ke mesin itu dalam posisi terbalik... Seandainya semua penumpang bus ini menggunakan sedikit hati.. Seandainya semua manusia yang mendiami bumi kita ini menggunakan sedikit hati untuk saling memperhatikan, untuk memandang dengan penuh kasih, untuk memberikan seulas senyum, pasti dunia kita ini akan berubah menjadi dunia yang indah. Demikian sang gadis desa dari pegunungan selatan ini bermimpi. Ia bermimpi di siang hari di tengah sesaknya bus kota ini. Ia bermimpi di antara tumpukan manusia yang hatinya seakan telah berubah beku ini.

Bus masih merayap pelan, sementara gerimis mulai turun..

Friday, February 25, 2011

Angin

“Aku tidak tahu mengapa kita semua telah menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Celakanya, dalam banyak segi, kita melakukan perbuatan-perbuatan itu demi nama Tuhan. Padahal yang kita perjuangkan hanya kepentingan kita sendiri. Karena kita telah menjadi korban, maka kita pun lalu mengorbankan orang-orang lain. Orang-orang yang sering tidak bersalah sama sekali. Maka apakah sungguh adil jika kita memperjuangkan keadilan dengan melakukan ketidak-adilan? Apakah sungguh benar jika kita berupaya menegakkan kebenaran dengan melaksanakan hal-hal yang melanggar kebenaran itu sendiri? Cobalah untuk merenungkan, bagaimana perasaan kita sebagai korban. Begitulah perasaan mereka juga yang telah kita korbankan. Atas nama apa pun juga....”

Demikianlah, kemarin seorang bapak tua mengungkapkan perasaannya saat menonton tivi di poskamling yang menayangkan berita tentang kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Pembunuhan. Pemerkosaan. Penindasan. Teror. Kita memang hidup di zaman dimana percepatan informasi telah menciptakan gelombang sensasi sehingga dengan mudah kita melakukan pembalasan bukan untuk pembalasan itu sendiri. Tetapi demi popularitas dan demi menyatakan keberadaan kita di dunia ini. Kita ingin orang-orang tahu bahwa kita sungguh eksis, bukan hanya sebagai batu-batu yang diam yang mudah untuk dipermainkan begitu saja. Maka kita melakukan aksi. Agar kita dikenal. Agar kita ada.

Perlukah itu? Saya meragukannya. "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Sabda itu terus menggema di hatiku, saat membaca berita tentang kekerasan berbau SARA beberapa waktu lalu. Kekerasan hanya membuahkan kekerasan. Pembalasan hanya mendatangkan pembalasan. Dan sampai kapankah ini berakhir? Tidakkah semuanya hanya sia-sia saja? Untuk apakah kita eksis jika kita harus mengenyahkan keberadaan yang lain? Demi suatu keseragaman? Atau untuk apakah kita kita eksis jika kita hanya eksis demi diri kita sendiri saja? Bukankah Gusti Yang Maha Bijaksana, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Maka apabila kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu, apa upahmu?

Tetapi kita memang hanya manusia yang lemah. Kita tak pernah belajar dari sejarah. Kita selalu ingin agar kebenaran dapat ditegakkan. Tetapi sayang bahwa, kebenaran itu hanya menurut versi kita sendiri saja. Maka kita hanya dapat melihat selumbar di mata orang lain tanpa peduli pada balok di mata kita sendiri. Kita menjadi insan yang tegar tengkuk, insan yang hanya dapat memandang kemauan kita sendiri saja sebagai kebenaran yang pasti. Dan harus ditegakkan. Sambil menganggap keberadaan yang lain hanya sebagai angin yang lalu saja. Kita lupa bahwa angin itu dapat menjadi badai yang dapat merobohkan apa saja. Termasuk diri kita sendiri. Maka jika para korban-korban itu suatu saat kelak menjadi badai, siapakah yang harus disalahkan?

“Cobalah merenungkan perasaan mereka yang telah menjadi korban…" Ya, marilah kita tidak hanya saling menyalahkan, tetapi juga saling memahami satu sama lain. Sebab mereka serupa angin. Dan angin dapat berhembus dengan lembut dan menyibakkan rambut kita dengan segenap kesegarannya. Tetapi dapat juga menjadi topan badai yang dapat merusak dan merobohkan rumah kemanusiaan kita semua. Sebab hanya ada satu bumi.

Hanya satu bumi.

Friday, February 11, 2011

Waktu, Kehidupan..

Aku memandang pohon belimbing yang tumbuh di samping rumah. Aku mengenang saat beberapa tahun lalu aku menanam pohon itu, saat itu dia masih amat munggil, kecil dan nampak lemah tak berarti. Aku kagum melihatnya sekarang. Aku juga memikirkan pada keponakan kecilku yang beberapa hari lalu kujumpai. Aku ingat saat terakhir aku melihatnya, dia hanya seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Beberapa hari lalu, yang kujumpai sudah menjadi gadis remaja yang centil dan manis. Kehidupan nampak bergerak di dalam segala sesuatu yang hidup. Dan waktu tidak menyisakan apa-apa bagi kita yang selalu terkungkung dalam masa lalu, kecuali kenangan.

Seberapa banyakkah kita telah berubah? Sadarkah bahwa kita telah berubah? Apakah arti kesedihan dan kegembiraan yang telah kita alami selama menjalani waktu-waktu keberadaan kita? Kita menangis. Kita tertawa. Kita berduka. Kita bahagia. Berapa banyakkah yang telah kita tinggalkan di masa lalu? Berapa banyakkah yang masih akan kita alami di masa depan? Sadarkah kita hari ini? Apakah memang hidup ini hanya sebuah penantian panjang menuju akhir? Apakah arti keberadaan kita saat ini? Untuk apa kita merasakan? Untuk apa kita berpikir? Apa gunanya semua kehidupan yang kita jalani selama ini? Untuk apakah kita ada di sini? Untuk apakah?

Kehidupan terkadang terasa sebagai suatu barang aneh yang kita jalani tanpa dipikirkan. Kita lahir. Kita bermain. Kita bercinta. Kita bergaul bersama teman dan sesama. Kita menikmati kebersamaan dalam keluarga kita. Baik atau buruk, kita ada dan menjalaninya, sering tanpa merasakan keberadaan kita sendiri. Kita lelap dalam rutinitas seharian. Tertawa. Menangis. Dan waktu bergulir terus tanpa kita sadari. Waktu bergulir terus. Kita mulai menua. Setiap tahun kita memperingati ulang tahun kelahiran kita. Mungkin dalam sunyi. Mungkin dalam derai tawa. Namun waktu keberadaan kita kian memendek. Dan kita sering gagal memahaminya. Atau tak peduli mengenai hal itu. Atau kita tak mau bersusah hati menghadapinya. Hidup telah berjalan dengan normal selama kita menjalaninya apa adanya. Kita, sang manusia, ada dan berada dengan segala kesusahan dan kesenangan kita, seringkali melupakan lewatnya sang waktu yang datang dan pergi dalam diam. Ah, sang waktu yang deras mengalir sesuai dengan perasaan kita....

Pohon belimbing yang dulu amat mungil dan lemah kini tumbuh menjadi sebuah pohon yang kuat dan tinggi. Keponakan kecilku yang dulu imut dan menggemaskan kita telah berubah menjadi seorang remaja yang lincah dan dewasa. Kita sadar bahwa saat ini tak lagi sama dengan saat kemarin. Tahu bahwa segala keputus-asaan dulu tak lagi punya makna saat ini. Untuk apakah kita bersedih hati? Jika pada akhirnya kita tahu kepastian apa yang akan dihadapi, perlukah segala rasa takut dan khawatir akan hari-hari kemudian? Sepi dan sunyi saat ini. Sepi dan sunyi. Tetapi manusia manakah yang tidak mengalami dan menyadari kesendiriannya dalam sepi dan sunyi itu? Manusia manakah? Kita, manusia. Kita, ada dan hidup. Kita merasa dan berpikir. Kita bersedih dan bergembira. Dalam waktu, kita hanya dapat lewat sejenak untuk istirahat selamanya...

Urip iki mung mampir ngombe.

Friday, January 21, 2011

Hujan siang hari

Genangan air sudah mencapai halaman depan kantor. Hujan masih deras dan aku hanya duduk terpaku menikmati tirai air yang demikian tebal di depanku. Langit kelam dan udara terasa sejuk. Aku melihat seekor kucing kecil melompat di bawah guyuran air sambil mengebaskan bulunya. Pohon sukun yang tumbuh di halaman kantor, daunnya melambai-lambai terhembus angin yang cukup kencang. Rerumputan di luar pagar depan lelap dalam genangan air dan hanya menyisakan sedikit pucuknya, seakan timbul tenggelam dalam terpaan air saat sebuah kendaraan melintas. Genangan air yang berwarna coklat memenuhi hampir seluruh permukaan jalan. Dan hujan tidak juga berhenti.

Sayup-sayup dari ruang sebelah, aku mendengar nyanyian, sepertinya suara dari seorang teman kerja yang siang itu merasa kesepian tetapi enggan untuk keluar, menerobos genangan air yang cukup tinggi ini. “Tuhan, kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati.....” Ah, siapakah yang sedang dirindukannya di siang kelam ini? Hujan, memang sering membuat suasana hati kita menjadi romantis. Dan aku menatap ke langit. Mendung masih saja tebal. Kemudian aku melihat ke kucing kecil yang kini tidur melingkar di pojokan teras yang kering. Suasana demikian tenang dan hanya dipenuhi suara hujan, daun dan nyanyian yang jauh menyelusup ke dalam perasaanku.
Ah, indah!

Tiba-tiba saja perasaanku dipenuhi rasa damai namun riang. Betapa kontrasnya. Udara yang muram di luar namun hati yang senang di dalam. Ternyata bahwa, apa yang aku rasakan tak harus sama dan mengikuti suasana yang mengelilingi diriku. Dan kukira, selayaknya jika hidup kitapun demikian adanya. Hidup yang sulit mungkin saat ini sedang mengelilingi kita, namun hati kita tetap bisa bernyanyi riang. Ya, saat ini tiba-tiba aku pun ingin menyanyikan satu lagu tentang rindu. Rinduku pada sesama, rinduku pada alam, rinduku pada rindu itu sendiri. Ah, indahnya!


Demikianlah, siang ini, di tengah derasnya hujan, di depan genangan air yang memenuhi jalan depan kantor, bersama seekor kucing kecil yang sedang melingkar di pojok teras, bersama pepohonan sukun dan reruputan, serta ditemani suara nyanyian yang sayup-sayup tiba, aku menuliskan ini dengan penuh rasa damai. Aku ingin tersenyum padamu. Aku ingin tersenyum pada dunia. Aku ingin tersenyum pada Tuhan. Aku ingin tersenyum pada apapun yang saat ini sedang menimpa hidupku. Aku larut dalam suasana hati yang tenang saat mendung tebal memenuhi langit. Dan mendadak aku merasa Gusti Yang Maha Ramah pun tersenyum padaku juga. Ya, Dia tersenyum padaku saat aku bisa menerima apa saja yang sedang kualami saat ini.


Hujan belum juga reda.
..

Monday, January 10, 2011

Mendung kelam

Mendung menutupi langit. Dia memandangi tirai gerimis. Ada sesuatu yang lelap dalam kemurungan hidupnya. Ada rasa hampa di dalam dadanya. Kepahitan. Ketidak-pahaman. Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Dengan raga terbui, dia biarkan pikirannya melayang lepas. Melesat jauh. Dari masa lalunya yang kelam ke masa depannya yang muram. Tidak! Tidak satupun, baik kekuasaan karena materi maupun kekuatan fisik, yang mampu membelenggu pikirannya. Dengan segudang sesal, segudang harapan yang kandas serta segudang rasa perih di hati dia menatap nanar jauh ke luar, ke tirai gerimis yang sedang memeluk bumi.

Berdosakah dia? Tidakkah suatu kesalahan sering terjadi justru karena ketidakmampuan seseorang untuk menolak kondisi pahit yang mengungkungnya? Dan bukankah kondisi itu justru sering kitalah yang menciptakannya? Dengan sedih kutatap matanya yang hampa. Segala kenangan indah bersamanya dulu, baik atau buruk, kini tersisa samar-samar bagai selaput tipis dalam waktu. Dia telah berupaya untuk melepaskan diri dari narkoba yang telah meracuni tubuhnya. Tetapi berkali-kali pula dia gagal. Lamat-lamat kukenang kata-katanya dulu: “Aku hanya mencari cinta, bro, hanya cinta…”

Ah.. cinta. Salahkah dia bila ternyata kita, sebagai masyarakat yang melingkunginya, gagal memberinya cinta? Salahkah dia bila kemudian dia merasa menemukan cinta bersama narkobanya? Salahkah dia? Bukankah luka-luka yang kini ditanggungnya adalah luka-luka kita pula? Jadi sanggupkah kita menghakiminya? Betapa sering kita hanya mempersalahkan tanpa merasa perlu untuk bertanya mengapa. Betapa sering kita hanya mendakwa tanpa merasa perlu untuk mencari tahu sebabnya. Kita malas dan enggan untuk menghadapi dan menerima akar permasalahan yang sesungguhnya.

Kita mencari gampangnya saja. Dengan mempersalahkan kita pun dapat cuci tangan dan berguman “itu salahnya sendiri, bukan salah kami.” Dengan mudah kita sembunyikan keengganan kita dibalik kata-kata gegap gempita: Lawan Narkoba!

“Aku hanya mencari cinta,” katanya. Dan kita ternyata gagal memberikannya. Ya, kita seringkali gagal memberikan cinta, baik kepada keluarga maupun sesama kita yang sedang berada dalam kesulitan. Kita meninggalkan orang-orang yang kesepian. Dan kita membiarkan keterasingan dari dunia sekeliling menutup jalan ke dalam hati kita. Kita bahkan membiarkan hati kita yang dipenuhi dengan rasa cinta tenggelam hanya dalam rindu tanpa berbuat apa-apa. Mungkin karena kita terlalu terlena dengan kepentingan diri kita sendiri. Mungkin karena kita lupa akan derita orang lain saat kita sendiri mengalami penderitaan. Pada akhirnya, kita semua kehilangan cinta. “Sayangilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” itulah perintah dari Yang Maha Penyayang kepada kita semua. Masih ingatkah kita?

Aku melangkah sendirian di lorong panti rehabilitasi ini. Derap kakiku bergema di ruang kosong, memantul dari tembok ke tembok. Dari wajah hampa satu ke wajah hampa lainnya. Dari kamar-kamar yang bisu dan tubuh-tubuh yang layu ke jiwa-jiwa yang merana. Hanya ada suara gerimis memecah sepi. Suara gerimis dari cinta yang telah terlupakan. Langit masih mendung.