... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Friday, February 19, 2010

Menuju puncak

Tentang seorang pendaki gunung, yang memaknai hidup dari perjuangan yang dia lakukan. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dipakai untuk menjelajahi gunung-gunung yang menjulang tinggi, hanya untuk melihat pemandangan mana yang terindah. Semakin tinggi gunung yang dia tapaki, semakin indah pemandangan yang ia dapatkan. Hingga pada suatu kesempatan, dia memutuskan untuk mendaki sebuah gunung di daratan Andalas sana. Memang bukan gunung tertinggi, tapi dia merasa itulah gunung tersulit yang pernah ia hadapi. Dalam hatinya ada sedikit ketakutan, hal yang selalu datang dalam hatinya setiap akan mendaki sebuah gunung. Seperti biasanya, dia berusaha menenangkan hatinya.

Setelah merasa cukup tenang dan
timing yang pas mulai melangkahkan kaki, selangkah demi selangkah. Mendaki gunung yang akan menghadiahi dia banyak tantangan dengan bekal seadanya.

Saat mencapai seperempat dari gunung tersebut, dia melihat sejenak ke belakang, jalan yang sudah ia lalui. Dalam pikirannya, dia berkata, "Ah, masih belum jauh." Sambil terus melangkahkan kakinya. Sampai langkahnya harus terhenti oleh seekor ular yang berjalan di hadapannya. Sesaat dia panik, dan ingin menghindar. Namun, sedikit gerakan tubuhnya, menyadarkan ular tersebut akan kehadirannya di sekitarnya. Ular tersebut memandangnya yang sedang berusaha tenang, dan ternyata ketenangan itu akhirnya membuat ular tersebut pergi.

Lalu dilanjutkannya perjalan itu dengan sisa bekal yang masih ada. Ketegangan karena ular tadi cukup membuatnya kehilangan tenaga. Kini dia sampai di posisi tengah dari gunung tersebut. Saat sadar akan posisinya, ada ketakutan muncul kembali dalam hatinya. Betapa jauh dan terjalnya jalan yang sudah ia lalui, dan yang masih akan dia jalani. Ditambah dengan bekal yang sudah sangat menipis. Sesaat kembali ia duduk dan mengumpulkan semangat, kembali pada motivasinya. Setelah yakin, ia kembali melangkah. Dia mulai dapat melihat pemandangan yang indah namun masih buram.

Sampailah dia pada tiga per empat bagian gunung itu. Ada pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat beberapa tulang belulang manusia di sana. Yang mungkin tewas saat mendaki dunung tersebut. Segera ia membuka bekal dan terkejut. Tinggal sepotong roti di sana. Pikirannya terguncang, takut akan kematian yang ada dalam benaknya. Namun saat memandang ke bawah, ia sadar, sudah terlalu jauh. Saat memandang sekelilingnya, ia mulai melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat, namun masih buram. Dan saat ia memandang ke atas, dia sadar, tinggal beberapa langkah lagi. Segera ia menghabiskan roti itu, dan dengan tekad bulat memutuskan akan mendaki gunung tersebut sampai tuntas.
Langkah-langkah terus bergantian, walau lelah sudah tak terkatakan lagi. Dia terus berusaha, walau terjatuh beberapa kali. Naik, naik, dan terus naik.

Sampai ia melihat sebuah hamparan tanah datar, dan kembali terjatuh. Jatuh dan tak sanggup untuk bangun lagi. Dicobanya untuk membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat indah dan jelas. Keindahan dunia di bawah sana. Warna-warni yang dihasilkan dengan sangat harmonis oleh alam. Ia sampai di puncak gunung. Ia mengucap syukur, dan dengan pasrah menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kelelahannya pada Sang Pencipta. Dia mati. Mati dalam kepuasan hidup. Mati dalam pengertian akan perjuangan hidup dan warna-warni kehidupan. Debu dan tanah gunung menjadi selimut untuk tidur panjangnya. Eidelweiss sebagai hiasan dan batu gunung sebagai batu nisannya.


Gambaran kehidupan yang akan, atau sedang, atau mungkin yang seharusnya kita alami. Tetaplah berusaha, yakin pada tujuan hidup kita. Percaya bahwa dari setiap perjuangan akan ada hasil. Sehingga kita pun dapat menghargai hidup kita, dan semakin percaya bahwa Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita. Yang akan menghargai setiap usaha dalam hidup kita sesuai harga yang telah Dia tentukan. Sampai akhirnya kita pergi dari dunia dengan kepuasan hidup, dan yang terutama kelepasan yang sesungguhnya.


maka putusa sang hyang kalepasan..

2 comments:

Tukang Nggunem said...

Soyo temuwo tenan..sepakat karo kandhamu kuwi Kang, ning yo ojo njuk mati dhisik nek wes tekan puncak pencapaian urip, luwih becik nek iso didum karo liyan..

Elsa said...

nice story...
bisa belajar banyak dari cerita ini