... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Saturday, February 16, 2008

Gunung Raung (1)

Hujan di awal pendakian


Hari pertama,
Perjalanan dimulai dari Stasiun Balapan Solo tepat jam sembilan pagi, dengan kereta api jurusan Banyuwangi. Tidak ada yang perlu diceritakan suasana di kereta selain kepengapan dan peluh yang membasahi kulit hampir sepanjang hari. Lepas magrib kami tiba di Stasiun Jember dengan tampang-tampang kusut dan berdebu. Langsung cari angkot yang kemudian mengantarkan ke sekretariat MAHAPENA UNEJ. Tiba di tujuan sekitar jam delapan kurang sedikit. Adek belum ada di situ, ga tau di mana dia waktu itu. Bebersih badan trus dilanjutin ngobrol deh ma anak-anak MHPN. Tentu saja di temani beberapa panganan yang dengan sigap di sediain ma junior-juniornya MHPN (kesian lu disuruh-suruh mulu ma senior). Sebagai tamu yang ga mau ngecewain tuan rumah, tentu saja kami dengan senang hati melahap tuntas berbagai hidangan yang ada (haiyah). Menjelang tengah malam satu persatu dari kami terkapar pulas meski obrolan masih berlangsung (sori bro sekalian, kami bener-bener capek he..he..)

Hari kedua,
Pagi hari cari sarapan sekalian belanja tambahan logistik yang kurang. Jam delapan kami meninggalkan MHPN menggunakan angkot menuju terminal Jember untuk selanjutnya menuju Gardu Atak dengan bus. Dilanjutkan dengan angkot lagi ke Sumber Wringin. Tiba di kantor perwakilan camat Sumber Wringin di Kemantren jam sebelas kurang dikit. Setelah mengurus perijinan pendakian di situ, terus cari makan deh di warung sebelah kantor tersebut. Selepas duhur perjalanan on foot pun dimulai melewati ladang tebu disambung hutan pinus yang sudah mulai digerogoti pembalak liar. Keluar dari (bekas) hutan pinus, kami melewati kebun kopi yang jalanannya mulai menanjak dan mulai becek. Tiba di Pondok Motor (pos semi permanen Perhutani yang biasa dijadikan base camp pendakian,
+1080 mdpl) sekitar jam empat sore. Bongkar perbekalan lalu mulai mempersiapkan makan malam sambil ngobrol beramah tamah dengan Pak So, penunggu (?) Pondok Motor. Malamnya checking perlengkapan sebentar terus langsung istirahat buat menghemat tenaga untuk besok.

Hari ketiga,
Bangun pagi, packing perlengkapan sambil sarapan biskuit. Hujan mengguyur bumi disertai angin yang cukup kencang membuat tusukan rasa dingin menyergap raga ini. Jam enam kami memulai pendakian menerobos hujan yang tidak juga mereda. Curahan air dari langit mulai reda saat kami tiba di sebuah persimpangan jalan (
+1445mdpl). Dengan pede kami mengambil jalur ke kiri. Sepuluh menit kemudian baru sadar ternyata jalur itu buntu (ha..ha..). Balik lagi deh ke persimpangan untuk selanjutnya mengambil jalur yang kanan.Jalur mulai lebat oleh berbagai semak dan pohon yang tumbang sehingga kami pun beberapa kali harus merangkak untuk melewatinya. Sempat istirahat beberapa kaliuntuk mengambil nafas (he..he..) kami tiba di Pondok Sumur (+1760mdpl) sekitar jam setengah satu siang. Istirahat lagi, masak makan siang. Nasi gurih, ceplok telur plus kerupuk udang cukup mengembalikan tenaga kami. Jam dua kami lanjutkan perjalanan. Jalur mulai terjal dan lebat, lagi-lagi mengharuskan siapapun untuk merangkak ataupun jalan jongkok untuk menembusnya. Hufffhh.. Menjelang senja kami menemui tempat yang cukup datar namun tidak begitu lapang. Meski begitu kami putuskan untuk berhenti, nge-camp.Dirikan tenda, siapin makan malam (makan lageee..). Sehabis makan, ditemani kopi panas plus cemilan beserta rokok, review perjalanan sehari tadi pun dimulai diselingi corat-coret catatan buat bahan laporan. Dilanjutkan briefing rencana untuk besoknya. Sebelum tengah malam kami pun masuk ke sleeping bag dan zz..zz..zzz...

5 comments:

Rey said...

pantes aja ndakinya gak kuat sampe jongkok2 gitu, lha wong kalian ngerokok.
Kalo mbaca postingan ini kyknya pendakiannya gak berat, isine kakehan mangan karo turu. Coba episode 2-nya dibikin yg lebih dramatis, kalo perlu sampe berdarah2, halahhh... hahahahaha :D

regso said...

sependapat karo rey, mosok yang diulas makane thok .
mana cerita yang laen ?
Dalam rangka nyari ilmu apalagi ini ?

Yur kalo aku pulang kampung besok, ajak naik gunung yo, tapi gunungnya yang rendah-rendah saja, kalopun gunungnya tinggi cari yang ada fasilitas angkot ato minimal ojek, aku gampang kesel soale..

Fiz said...

Oleh-olehe endi??? (karo ngathong)

azliaje said...

pingin banget ke sana neh.. bisa tunjukkan jalannya nga' = )

anywhere_Smile said...

Engagement much more experience pandora jewelry from then on become the most accepted by pandora bead new couple.Engagement ring is the expression among Pandora charms love plus association in which twosome shares. Generally buy Pandora indicates love and purity and as such people would delight discount pandora the diamond turning into for such particular and special pandora sale relationships. Solitaire diamond rings are outstanding for pandora earrings engagements. Expert artisans make that gemstones far cheap pandora earrings more attractive giving them special cuts. Towards the effort comes pandora sets to pay for jewelry for Mom you will notice jewelry has become cheap pandora sets optimum novelties you can still give your mom.