... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Thursday, May 1, 2014

Hujan sore

Tiba-tiba saja hujan turun. Aku bergegas menepi. Sekelompok anak kulihat berloncatan, menari dibawah cucuran hujan. Aku menatap mereka dan menelan keluhan yang mulai datang di hatiku. Sementara aku berteduh dan merasa gelisah karena hujan tidak kunjung reda, anak-anak itu nampak gembira meliuk-liukkan tubuh mereka yang kecil sambil menari-nari dengan baju yang basah kuyup. Mereka tidak peduli akan waktu seperti orang-orang dewasa ini. Mereka tidak punya apa-apa untuk dikeluhkan. Gembira saja bermain bersama air yang jatuh dari langit.

Maka, benarlah bahwa kesusahan itu berawal dari cara kita memandang sesuatu keadaan menurut kepentingan diri kita masing-masing? Sebab, diinginkan atau tidak, toh hujan tetap akan turun jika dia memang harus turun. Tidak dapat kita menghentikannya. Bukankah kita hanya harus menunggu sejenak saat langit kembali cerah? Mengapa kita harus merasa kecewa atau malah gusar? Toh, bukan hanya kita seorang saja yang menerima keadaan tersebut. Tetapi kita masing-masing lalu melihat kesusahan itu dari sudut sempit kepentingan diri kita saja. Bukankah dari sanalah sumber asal segala duka cerita hidup ini?
 
Seorang bapak tua, kulihat muncul dan berteriak dari samping lorong, melarang anak-anak itu bermain di bawah cucuran hujan. Seorang anak yang terkecil dari antara kelompok itu berlari sambil mengebaskan bajunya yang basah. Kakinya terangkat saat dia memutar tubuhnya yang kurus sambil berseru, "biarin aja!


Dan aku pun tersadarkan dari lamunan panjangku. Bisa jadi, hidup itu sesungguhnya adalah suatu permainan yang tak perlu terlalu dirisaukan. Bencana boleh datang silih berganti. Namun hidup terus saja berlanjut. Dan suka atau tidak, kita tak bisa mengelak dari kesulitan yang kini menerpa kita. Tetapi jika kita menyadari bahwa, setiap kesulitan yang kita hadapi juga dihadapi sesama kita yang lain, lalu mengapa kita harus lari dan menyembunyikan diri kita? Mengapa kita kadang bersikap pengecut atau malah sering harus mencari kambing hitam atas kesulitan yang sedang menerpa kita? Mengapa kita terkadang merasa putus asa dan ingin menghabisi hidup ini? Mengapa kita harus merasa gagal untuk menerima kemalangan itu? Apa mungkin karena kita telah menjadi sosok yang dewasa dan karena itu kita lalu gagal untuk menikmati keindahan permainan masa kanak-kanak kita lagi?

Kini, perlahan-lahan hujan mereda. Menjadi gerimis yang lembut menirai. Dan dari balik awan yang tak terlalu tebal, seberkas cahaya menyorot ke bumi. Anak-anak itu masih saja sibuk bermain di sepanjang sisi jalan, yang juga mulai dipenuhi oleh para pejalan kaki dewasa yang tadi melindungi diri mereka di emperan toko. Dan aku pun membaur bersama mereka. Hujan tiba-tiba saja reda. Menyejukkan udara yang tadi sedemikian menyengat. Bau tanah basah memenuhi paru-paruku. Pastilah, kesusahan yang kita alami saat ini pun akan segera menghilang, diganti dengan kesegaran kegembiraan hidup. Asal saja kita sabar menunggu. Asal saja kita mau menunggu.


Gerimis berhenti, aku kembali menyusuri trotoar basah ini menuju arah pulang...

Monday, February 10, 2014

Bencana

Gerimis sepanjang senja. Mendung menjelang malam. Bayanganku terpantul di atas aspal basah. Lampu jalan meremang dalam kelam langit. Ada rasa sunyi. Ada rasa sepi. Sesuatu yang terasa akrab. Sesosok tubuh lelaki terlihat terbaring di atas trotoar yang lembab. Sesosok tubuh yang memohon sedekah. Sesosok tubuh yang memintal harap. Adakah dia memilikinya? Maka kukenangkan puluhan tubuh yang bergelimpangan. Ratusan tubuh yang tersapu bencana. Tubuh-tubuh yang tak pernah mengira akhir tiba dengan cara tak terduga. Adakah pernah mereka memiliki isyarat? Adakah pernah mereka membayangkan apa yang kini telah terjadi? Bersalahkah mereka? Apakah sungguh Tuhan telah melupakan mereka?

Bencana. Sering kali kita memikirkan hal itu dalam bayang-bayang ketak-pedulian. Sering kita melalaikan derita yang terjadi sepanjang kita sendiri tak mengalaminya. Kita lupa bahwa selalu ada keterkaitan antara diri kita dengan apa yang telah kita lakukan. Terhadap alam lingkungan kita. Terhadap sesama yang hidup bersama kita. Bahwa, bila kita percaya hanya kepada-Nya, itu cukuplah. Bahkan sering kita bersembunyi di belakang jubah kebesaran-Nya untuk melaksanakan kepentingan kita saja. Lalu kita pun melupakan bahwa Tuhan tak pernah hanya ada dalam diri kita saja. Sebab Dia adalah pemilik kita semua. Kita semua.

Malam tiba. Dalam bayangan langit yang gelap. Dan hujan yang turun deras. Langit tanpa bulan. Langit tanpa bintang. Hanya mendung tebal. Dan sesosok tubuh yang terbaring di atas trotoar basah. Terbaring di bawah pantulan lampu jalan. Kota seakan menyemburkan segenap duka laranya dalam tadahan tangan lelaki itu. Berbedakah kita? Tidak. Dalam derita, dalam bencana, kita adalah satu. Sayang bahwa kita sering lupa saat kesenangan melimpahi kita. Walau kita tetap memuji berkah dari-Nya, kita sering alpa dari derita yang bersembunyi di balik tabir hidup ini. Yang suatu ketika bisa saja muncul dengan tiba-tiba. Dan tak pernah dapat kita ramalkan. Tak akan pernah.

Tetaplah berharap, kawan. Semoga kita tak pernah kehilangan harapan. Semoga kita tak akan kehilangan Dia yang sesungguhnya berada di balik kehidupan kita. Ya, janganlah kita bersembunyi di balik jubah-Nya karena Dia selalu ada di balik setiap kehidupan kita semua. Tanpa kecuali. Sebab jika tidak begitu, untuk apa kita percaya bahwa Dia ada? Hujan menderas malam hari. Hujan dengan begitu banyak duka dan harapan yang memenuhi bumi. Memenuhi setiap kehidupan di baliknya. Semoga dari segala bencana dan kekelaman ini terbitlah kesegaran baru di hari esok.

Kita, kita semua menanti fajar baru yang cerah. Tetap dengan harapan. Tetap dengan berpegangan tangan. Tetap dengan keyakinan bahwa apa yang telah terjadi adalah pada salah seorang dari antara kita adalah juga mungkin terjadi pada kita semua. Hanya Dialah pemilik kita. Dan hanya Dialah milik kita semua. Kita semua.

Buat kawan-kawan yang sedang tertimpa bencana di berbagai belahan tempat, semoga makin kuat dan tetaplah tegar. Be strong, guys !!

Thursday, January 30, 2014

Mendung sore

Langit sore itu tertutup mendung. Dia memandangi tirai gerimis yang mulai jatuh. Ada sesuatu yang lelap dalam kemurungan hidupnya. Ada rasa hampa di dalam dadanya. Kepahitan. Ketidak-pahaman. Pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Dengan raga terbui, dia biarkan pikirannya melayang lepas. Melesat jauh. Dari masa lalunya yang kelam ke masa depannya yang muram. Tidak! Tidak satupun, baik kekuasaan karena materi maupun kekuatan fisik, yang mampu membelenggu pikirannya. Dengan segudang sesal, segudang harapan yang kandas serta segudang rasa perih di hati dia menatap nanar jauh ke luar. Ke tirai gerimis yang sedang memeluk bumi.

Berdosakah dia? Tidakkah suatu kesalahan sering terjadi justru karena ketidakmampuan seseorang untuk menolak kondisi pahit yang mengungkungnya? Dan bukankah kondisi itu justru sering kitalah yang menciptakannya? Dengan sedih kutatap matanya yang hampa. Segala kenangan indah bersamanya dulu, baik atau buruk, kini tersisa samar-samar bagai selaput tipis dalam waktu. Dia telah berupaya untuk melepaskan diri dari narkoba yang telah meracuni tubuhnya. Tetapi berkali-kali pula dia gagal. Lamat-lamat kukenang kata-katanya dulu, “Aku hanya mencari cinta, bro, hanya cinta…” 

Ah, Cinta. Salahkah dia bila ternyata kita, sebagai masyarakat yang melingkunginya, gagal memberinya cinta? Salahkah dia bila kemudian dia merasa menemukan cinta bersama narkobanya? Salahkah dia? Bukankah luka-luka yang kini ditanggungnya adalah luka-luka kita pula? Jadi sanggupkah kita menghakiminya? Betapa sering kita hanya mempersalahkan tanpa merasa perlu untuk bertanya mengapa. Betapa sering kita hanya mendakwa tanpa merasa perlu untuk mencari tahu sebabnya. Kita malas dan enggan untuk menghadapi dan menerima akar permasalahan yang sesungguhnya. Kita mencari gampangnya saja. Dengan mempersalahkan kita pun dapat cuci tangan dan berguman “itu salahnya sendiri, bukan salah kami.” Dengan mudah kita sembunyikan keengganan kita dibalik kata-kata gegap gempita, Lawan Narkoba!

“Aku hanya mencari cinta,” katanya. Dan kita ternyata gagal memberikannya. Ya, kita seringkali gagal memberikan cinta, baik kepada keluarga maupun sesama kita yang sedang berada dalam kesulitan. Kita meninggalkan orang-orang yang kesepian. Dan kita membiarkan keterasingan dari dunia sekeliling menutup jalan ke dalam hati kita. Kita bahkan membiarkan hati kita yang dipenuhi dengan rasa cinta tenggelam hanya dalam rindu tanpa berbuat apa-apa. Mungkin karena kita terlalu terlena dengan kepentingan diri kita sendiri. Mungkin karena kita lupa akan derita orang lain saat kita sendiri mengalami penderitaan. Pada akhirnya, kita semua kehilangan cinta. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” kata pengkhotbah. Masih ingatkah kita? 

Aku melangkah sendirian di lorong panti rehabilitasi ini. Suara kakiku bergema di ruang kosong, memantul dari tembok ke tembok. Dari wajah hampa satu ke wajah hampa lainnya. Dari kamar-kamar yang bisu dan tubuh-tubuh yang layu ke jiwa-jiwa yang merana. Hanya ada suara gerimis memecah sepi. Suara gerimis dari cinta yang telah terlupakan. Langit masih pekat.

Saturday, January 25, 2014

Akhir perjalanan itu

Tubuhnya terbaring lemah. Kurus seakan hanya kulit yang membungkus tulang. Matanya terpejam. Dahinya dipenuhi kerutan kasar. Rambutnya telah habis rontok. Sesekali dia menggumankan keluhan. Aku terpana memandangnya. Ah, aku memandangnya sambil bertanya dalam hatiku. Diakah teman yang pernah bersamaku mengalami keceriaan hidup? Diakah teman yang dulu selalu bersemangat dalam mengatasi masalah-masalah yang melanda kami? Diakah itu? Kemanakah perginya semangat, ambisi, harapan dan kecerdasannya? Kemanakah perginya hati yang teramat lembut dalam menghadapi kekerasan dan tantangan yang kami hadapi? Kemanakah?

Hanya beberapa bulan lalu, dia masih tegar saat menerima berita tentang kanker yang mendera ususnya. Dan dengan tertawa berkata bahwa dia takkan takluk dengan penyakitnya. Kini, di sini, di atas pembaringan sebuah rumah sakit swasta, aku memandang tubuhnya yang kian melemah akibat proses kemoterapi dan perjalanan penyakit yang tak lagi mampu dibendung. Kritis setelah dua kali operasi yang dilakukan untuk membuang sel-sel kanker yang menggerogoti ususnya, dan pada akhirnya sadar bahwa semuanya tak mungkin lagi dihentikan. Semuanya berjalan sesuai proses alami yang telah terjadi. Dan waktu hampir tiba baginya. Pada akhirnya, toh, kita semua akan menjalani proses akhir ini. Pada akhirnya kita semua akan menuju ke sana. Akhir perjalanan diri.

Matanya tetap terpejam. Namun dari sela-sela kelopaknya yang tertutup itu, mengalir tetesan air, bening dan lembut. Ah..., gumamnya perlahan. Aku mengira dia ingin menggumamkan sesuatu, namun tak mampu lagi dia mengutarakannya sendiri. Apa yang sedang dirasakannya? Apa yang sedang berada dalam pikirannya? Apa yang ingin dikatakannya? Dunia perlahan-lahan telah meninggalkan dirinya. Tubuhnya telah kalah. Tetapi aku merasakan bahwa dia masih sadar dan tetap sadar dalam ketidak-mampuannya untuk menyuarakan keadaannya sendiri. Dimanakah dia sekarang? Sementara aku berdiri di sampingnya, memegang tangannya, berbisik di samping telinganya, memanggil namanya, dia tak lagi berada bersamaku. Aku merasakan betapa kian jauh dia. Kian jauh pergi. Jauh....

Gusti Sang Kuasa, siapakah manusia yang lemah ini? Siapakah kami, yang saat demikian kuat dan bugar, mampu melawan apa saja tanpa pernah mau untuk merasa kalah? Siapakah kami, yang bisa demikian angkuh untuk mencari aneka jawaban atas kehidupan yang telah kau ciptakan untuk pada akhirnya hanya bisa pasrah terbaring lemah tanpa mampu berbuat apa-apa lagi? Aku sungguh tergetar saat menyaksikan dan mendampingi tubuh sahabatku ini. Tubuh yang pernah demikian gesit dan lincah menghadapi segala macam cobaan. Tubuh yang pernah demikian tegas dan tegar menerima segala akibat dari apa yang kami lakukan dulu. Mengapa hanya tersisa sesosok tubuh yang demikian lemah dan tak mampu lagi menggerakkan tangannya sekalipun? Dimanakah dia saat ini? Dimana?

Dari luar ruangan ICU ini, sayup-sayup aku mendengarkan suara riuh percakapan orang-orang yang mungkin sedang membicarakan peristiwa atau orang-orang yang mereka kenal. Namun di dalam ruangan ini, hanya ada kesunyian berdiam diri, mengambang di udara yang berbau obat dan bunyi kelikan mesin penyambung jiwa. Pada akhirnya, kita semua akan sendirian bergulat dengan diri kita. Aku yang berada di sisi sahabatku ini, tiba-tiba merasa demikian terpencil. Jauh dan sendirian. Dalam hatiku bergulat banyak pertanyaan yang dengan kesadaran penuh, kutahu, takkan pernah dapat kujawab. Semua peristiwa yang telah silam, kembali dalam kenanganku. Namun aku tahu bahwa segala sesuatu takkan bisa kembali. Ya, waktu yang telah lewat akan menjadi masa lampau dan suatu saat terbenam dengan senyap dalam ingatan. Dengan sedih aku menggenggam tangan temanku ini, mendoakannya sejenak, berbisik di telinganya untuk tetap tabah menerima akhir yang tiba. Lalu aku bangkit, meninggalkan ruangan ini, menanggalkan piyama hijau dan menggantungkannya di tempatnya, kemudian keluar. Dunia nampak tidak berubah. Tetapi aku merasa amat sendiri. Hanya sendiri...

Friday, January 17, 2014

Masih Lamakah Malam Ini ?

Siapa yang menyangka dapat memastikan masa depan, bertanyalah pada musim. Saat langit malam menghitam pekat, kita tahu bahwa hujan akan turun. Dan jika  melihat gerimis tiba setelah hujan lebat berkepanjangan, kita tahu bahwa sebentar lagi langit akan cerah. Musim terus berganti, cuaca terus berubah. Tidak ada yang baru di muka bumi ini kata pengkhotbah. Tetapi mengapa kita terus mencari jawaban atas hal-hal yang semestinya kita telah kenali? Pagi akan datang. Tetapi malam juga.

Ada seorang bapak tua yang pernah saya kenal. Kami sering duduk berdua, bermain catur sambil dia bertutur tentang masa mudanya. Banyak hal yang telah dialaminya. Pada akhirnya toh, sampailah dia di masa kini. Kami berdua duduk bermain catur. Di bawah pohon jambu depan rumahnya yang sederhana. Dia, seorang purnawirawan yang telah banyak mengalami banyak kejadian pahit dalam hidupnya, kini bersama-sama denganku bertutur tentang apa saja sambil menertawai hidup. Pantaskah kita menangisi masa lalu ? Tanyanya kepadaku. Apa yang sudah terjadi biarlah lewat.

Catatan ini kutulis untuk mengenang dia yang kini telah kembali keharibaan-Nya beberapa waktu lalu. Suatu sejarah hidup adalah waktu yang lewat melintas. Dan jumlahnya sebanyak jiwa-jiwa yang dulu pernah, sekarang masih dan akan lahir ke dunia ini. Tiap insan memiliki cita rasa dan pemikiran sendiri dalam menghadapi waktunya. Ada yang lemah hati, mudah terguncang dan tergoda untuk pasrah dan menyerah pada keadaan. Ada pula yang tegar, kokoh dan terkesan keras dalam menghadapi keadaannya. Tetapi banyak juga yang berada pada batas dua sisi tersebut. Hidup toh tidak semata hitam putih. Sebagian besar kita berada dalam lingkungan kelabu yang tak nyata. Maka untuk apakah kita harus ngotot, berjuang mempertahankan ambisi dan pandangan kita jika toh kita tahu bahwa pada akhirnya kita hanya debu. Pada akhirnya kita cuma debu belaka.

Maka jika saat ini kita merasa bahwa malam amatlah panjang, sesungguhnya dia tetap hanya dua belas jam saja. Dan jika sebagian dari kita, merasa bahwa pagi juga tetap gelap, cahaya pagi pasti akan terbit juga. Tidak peduli bagaimana cara kita menghayatinya. Apakah akan kita sia-siakan cahaya itu? Ingatlah bahwa Tuhan menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Dia tidak pilih kasih. Mengapakah kita harus memilah-milah hidup ini? Merasa lebih besarkah kita dari Gusti kita? Jika demikian, seberapa berhargakah kita nilai hidup ini? Pada akhirnya toh, kita akan menyerah lalu kembali menjadi debu.

Demikianlah, hidup berputar terus. Tidak ada yang baru di bawah muka bumi. Segala sesuatu adalah sia-sia belaka. Demikianlah kata pengkhotbah. Muramkah itu? Tidak! Pada akhirnya kita akan menuju kepada Dia juga. Karena itu, hidup menjadi berharga bukan karena kita memasrahkan diri pada keadaan tetapi karena kita melakukan apa-apa yang diinginkan-Nya. Mungkin kita dapat memperkirakan apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi apa gunanya jika kita tidak berbuat sesuatu demi menggenapkan kasih-Nya di dunia ini? Pagi akan datang. Tetapi malam juga. Itulah kesadaran yang alami untuk menghadapi kesusahan di hati kita semua.

Bapak tua itu kini telah pergi. Sepanjang hidupnya dia telah berjuang untuk hidup demi memegang prinsipnya. Dia tersisih dari pangkat dan kedudukan yang lebih tinggi hanya karena dia berbeda dengan kebanyakan teman se angkatannya. Dia gagal untuk mencapai posisi tinggi hanya karena membela kebenaran yang diyakininya. Tetapi dia tidak menyesal. Dia tidak mengeluh. Dia sadar bahwa itulah resiko yang telah diramalkannya sebelumnya. Pagi akan datang. Tetapi malam juga. Maka pantaskah kita ragu pada masa depan?

Thursday, April 26, 2012

Pada suatu hari


Pagi menjelang subuh, saat sang candra bersiap istirahat menuju peraduannya..


Akhir senja, kala sang bagaskara hampir tenggelam di cakrawala..


Lokasi : Pantai barat pulau jawa, dari balkon kamar sebuah hotel

Monday, January 9, 2012

Pusara sore

Unthukan lemah kuwi isih teles. Ing ndhuwure semebar kembang layon lan tumacep kayu werna soklat ing sakiwa tengene. Nyawang kayu lan tulisan jeneng kang ana ing kayu luwi, ana memori kang teka ngelingi pasuryan kang wis dadi wewayangan. Pasuryan kang edum semanak kuwi wis lebur bareng ibu pertiwi, nanging gegambaran pasuryan lan kapribadhene ora bakal ilang saka pangeling-eling.

Pepesthen arupa pati ora bisa disemayani lan diendhani dening manungsa kabeh. Aku ngerti marang pasrahe kang tenanan. Sumareh ikhlas marang apa kang bakal teka. Ora mung merga wis dadi sifate kang lembah manah, nanging uga merga parahe penyakit sing diadhepi.

"Papa gerah napa ta?" pitakone anake sing isih cilik wektu kuwi.
"Papa ora lara, le. Papamu mung lagi ngaso," wangsulane lirih.
"Namung ngaso, napa kok kedah wonten ruang isolasi?" anake saya nalisik.

Dheweke wis ora kuwawa mangsuli pitakonan-pitakonan sakbanjure saka anake. Luhe netes saka pojoking mripat, nelesi pipi sing saya dhekok.

Dina-dina sakbanjure, kondhisi kesehatane saya mudhun. Sore kuwi garwane ditimbali dhokter kanggo dijaluki rembugan bab penanganan larane.

" Kondhisi kang garwa saya parah. Dalan siji-sijine mlebu nang ICU, kemungkinan kudu cuci darah amarga getihe wis kecampur racun saka pecahe peru," ngendikane dhoktere.
"Sedaya tindakan medis kula nyumanggakaken, ndherek dhokter kemawon," wangsulane bojone karo kembeng-kembeng luh.

Ambegane dipacu karo tabung oksigen. jantunge dimonitor terus karo komputer. Garis munggah-mudun ing layar monitor nandhakaken yen isih ana tandha panguripan. Nganti tekane garis terakhir sing lempeng ora ana munggah lan mudhune pratandha sedane. Dheweke wis ora ana, wis lunga. Lunga ngleyang ndhisiki anak lan bojone, marak sowan marang ngarsane Gusti. Lungane wis ngluwari siksaning penyakit sing wis nggrogoti uripe, nanging lungane uga ninggalake dhukita kang jero lan ilange pangarep-arep kanggo anake.

"Ma, Papa tindak ngendi?" pitakone anake marang mamane.
"Papa tindak sowan ngarsane Pengeran," wangsulane alon.
"Kapan kondure Papa sakwise nemoni Pengeran?" pitakonane anake sakbanjure.

Kasedan jati tansah ninggalaken dhukita, nanging sakwalike kasedihan kuwi ana pitakonan sakbanjure kaya sing ditakokaken anake bab lungane papane. Unthukan lemah sinebaran kembang layon wis nyawijekake jasad karo bumine. Manungsa cinipta saka lemah, mangka sakwise jiwa lunga tinimbalan, ragane kudu bali nyawisi dadi lemah.

Raga pancen lebur kapendhem bumi, nanging jiwa suksma kuwi abadi. Sakwise kasedan jati, raga pisah kelawan jiwa. Raga lebur nemahi lemah asale, suksma lunga bali marak sowan marang Gusti. Pisahing raga lan jiwa nalika seda, sinawang kadya lepasing suksma saka pakunjaraning raga. Raga kang nalika uripe tansah nyikep jiwane. Merga raga kang ringkih, kadhang ndadekake jiwa katut ringkih.

Sandyakala tumurun luwih cepet ing komplek pasareyan iki. Wit-witan ngrembuyung sing nutupi lan sororting srengenge ilang luwih dhisik katolak godhong-godhong tuwa lan semribiting gandane kembang layon. Pindha kapal sing ngeterake penumpang tekan pelabuhan, dheweke ora ngerti tujuan sakteruse para penumpang kuwi. Semono uga para asung belasungkawa lan pangiring jenazah, hamung bisa ngeterake raga kang seda nangin ora ngerti parane jiwa sakbanjure. Nanging, kanggone kawula kang percaya marang Kang Maha Kuwasa, kabeh yakin yen suksma bakal bali marang Sangkan Paraning Dumadi.

Saturday, October 15, 2011

Esem...

Sedulur... wingi sliramu teka kanthi kebak ing sambat. Dina iki sliramu sambat maneh. Aku bisa paham apa sing mbok rasakake, utamane nalika sliramu menehi esem. Ya, menehi esem sing mbok anggep paling endah, marang kancamu. Nanging sing mbok tampa minangka piwalese mung sawijining sikep kang adhem. Aku ngerti yen sliramu nesu, kepara sengit marang kancamu sing nduweni polah sing kaya mangkono. Aku paham yen sliramu ngarepake supaya dheweke mbales kanthi sikep sing trep, sak ora-orane ya mbales kanthi esem, najan dudu esem sing paling endah.

Sakjroning lara atimu, sliramu sumpah, "Tobat, aku ora arep kekancan maneh karo dheweke. Ora pantes dak dadekake kanca !" Lan sliramu getem-getem muntab, kaya-kaya arep nguncalake dheweke nang panggon uwuh. Sliramu ngarepake supaya dheweke ilang saka panyawange netramu. Sliramu mikir gampang ngowahi kekancan pindha molak-maliking tangan. "Apa isih ana pasrawungan raket kang awet?" sliramu isih wae takon marang atimu dhewe.

Sedulur... aja gampang nesu. Dheweke ora mbales esemu bisa wae merga dheweke lagi ora bisa mesem. Ana kedadeyan utawa perkara kang dumadi marang dheweke sing ya mung dheweke dhewe sing mangerteni. Mbok menawa wae dheweke wingi ora ngati-ati, banjur kesandhung lan njarem sikile. Mbok menawa dheweke wingi wis sinau kanthi direwangi lek-lekan nanging bijine tetep ora maremake. Mbok menawa atine isih rinujit nalika wong sing ditresnani ngaturake salam pisah. Isih akeh "mbok menawa" sing ndadekake dheweke ora bisa mesem kanggo mbales esemu.

Sedulur... sliramu isih bisa mesem. Isih bisa ngguyu. Wenehana esem marang dheweke. Dadia pindha saklariking sunar pepadhang rikala dheweke ana jroning petenging wengi. Apuranen dheweke menawa dheweke durung bisa asung esem marang sliramu rikala iki.

Friday, July 8, 2011

Es teh tawar

Saat itu aku sedang berada di tempat makan bakmi ayam di seputaran stadion bersama beberapa temanku. Aku sedang tidak ingin minum yang manis.

“Es teh tawar, jangan manis ya bu”, pesanku kepada ibu penjual bakmi.

“Tidak ada mas, adanya es teh manis”, jawab ibu itu.

Kemudian temanku melihat ke arahku seakan bingung dan aku pun terus terang bingung juga, kok es teh tawar tidak ada, tapi es teh manis ada ?

Temanku menyahut, "gini bu, waktu buat es teh, jangan dipakaikan gula, jadi nggak manis".
Tapi si ibu ini tetap bilang, "nggak bisa mas, pasti manis".

Kemudian logikaku berpikir, mungkin dia sudah membuat dalam jumlah banyak dan sudah dicampur gula, jadinya semuanya manis.

Karena penasaran temanku bilang, "Tolong deh bu, bawa kesini tehnya, kami ingin lihat cara buatnya".

Si ibu ke dalam dan kembali dengan beberapa buah gelas berisikan es batu dan beberapa botol ‘Teh Botol’. Mengertilah kami, dan kami pun tertawa akan hal ini, ternyata es teh itu yah ‘teh botol’ itu, ya... otomatis manis, gimana buat jadi nggak manis.

Kami katakan kepada ibu, “bilang dong bu, kalau ini teh botol namanya, jadi kami mengerti kenapa nggak bisa nggak manis”. Lalu kami meminumnya dan menyantap bakmi ayam itu.

Kadang kala kita ingin memaksakan suatu kehendak kepada orang lain, seperti halnya sewaktu saya ingin meminta eh teh tawar itu, kita sudah punya pikiran sendiri bagaimana es teh itu dibuat. Tapi dilain hal ternyata yang tersedia itu justru teh yang sudah dalam kemasan botol. Apa yang ternyata kita pikirkan itu berbeda sekali dengan apa yang ada.

Dalam berdoa kita juga sering memaksakan kehendak kita dan merasa kecewa jika doa kita tidak terkabul, seperti seseorang yang curhat padaku beberapa waktu lalu, dimana dia mendoakan kesehatan ayahnya, dan ia rela memberikan setengah umurnya kepada kehidupan sang ayah. Tapi ternyata sang ayah meninggal, dan dia kecewa kepada Tuhan kenapa Tuhan tidak mendengarkan doanya padahal ia telah memberikan setengah umurnya untuk umur sang ayah.

Temanku mungkin beranggapan ia bisa mengatur melalui doa yang ia panjatkan tapi kehendak Tuhan berbeda, mungkin saja si ayah itu juga berdoa hal yang sama, sehingga si ayah rela memberikan juga umurnya untuk anak-anaknya, dan semuanya itu kembali kepada kehendak Tuhan.

Pengeran iku sing paling kuwasa, tetepa nenuwun kanthi lembahing ati..

Friday, May 20, 2011

Pacar Atheis (joke)

Seorang ibu katolik semula menolak keras anak gadisnya pacaran dengan pria atheis. Ia kuatir, anak semata wayang yang pintar menjual itu bakal keseret jadi atheis.

Ketika sang anak merajuk lagi supaya diijinkan melanjutkan hubungannya, sang ibu punya ide brilian :

"Baiklah, kau boleh pacaran, asal bujuk dia masuk katolik," kata sang ibu.
"Kalau dia mau masuk katolik..." kata si anak setengah bergumam.
"Kamu boleh kawin dengannya. Dan ingat, jangan tangung-tanggung meyakinkan orang atheis," sambung sang ibu.

Begitu mendapat restu, si anak tambah semangat menjual gagasan katolik pada sang pacar, si pria atheis menampakkan rasa tertarik pada jualan pacarnya, dan sang ibu makin yakin ide mengkatolikkan pria atheis itu bakal jadi kenyataan.

Suatu hari, menjelang hari H perkawinan mereka, si gadis pulang ke rumah dengan mata berlinang,

"Ada apa sayang? semua sudah oke, kan ?" tanya si ibu.
Sang anak menjawab sambil terisak, "Bubar semua deh! Gara-gara aku gencar menjual gagasan katolik, sekarang dia malah memutuskan jadi Pastur !"

sorry, repost, just for joking :D

Tuesday, April 26, 2011

Hastinapura makin kelam

Duryudana, pemimpin tertinggi negri Hastinapura, kemarin tiba-tiba muncul dalam berita sebuah situs berita online terkemuka negri. Beliau diberitakan sedang memimpin rapat kabinet kerajaan sambil seolah menunjukkan kepada seantero negri bahwa beliau masih eksis dan sehat. Memang beberapa waktu akhir-akhir ini beliau sepertinya menghilang, sepi dari pemberitaan media. Mantan jendral angkatan perang Hastinapura yang semasa kampanye dulu membawa slogan "TERUSKAN !" akhirnya setelah berhasil menjabat, benar-benar melaksanakan slogannya tersebut. Beserta jajarannya, beliau benar-benar "meneruskan" keruwetan tata pemerintahan negri Hastinapura yang sudah terlanjur semrawut sejak periode pertama beliau menjabat.
Rata-rata media nasional maupun lokal Hastinapura lebih ramai mewartakan tentang tokoh "cerdas" berpostur kerempeng, Arya Sangkuni, yang kebagian posisi memimpin Dewan Kerajaan, yang makin tidak menentu ucapan maupun pernyataan-pernyataannya. Apalagi setelah ditentang banyak kalangan dalam kengototannya membangun gedung baru bagi lembaga yang dipimpinnya. Tokoh ini sedikit menurun pamornya dalam media setelah salah seorang anggota lembaganya, Durmagati, membuat sensasi dengan menonton adegan bilm forno (BF) melalui gadget-nya ditengah sidang dewan kerajaan.
Tak kalah sensasional meramaikan kehebohan negri berikutnya adalah Dewi Krepi, istri Durna. Perempuan berparas biasa yang dengan ajian Salinrogo bisa merubah fisik dirinya menjadi sosok seksi nan montok. Dia bekerja pada sebuah bank dengan jaringan internasional namun justru menyalahgunakan kewenangannya untuk mengibuli banyak nasabah demi keuntungan pribadinya, bahkan sempat tersiar kabar banyak nasabah korbannya yang berasal dari institusi lingkar kerajaan, istilah sebelumnya adalah "senapati berekening gendut". Tetapi, kehebohan Dewi Krepi ini hanya berlangsung sesaat, karena segera dilibas oleh kabar yang meninabobokan para kawula. Yaitu tentang Citraksi, prajurit punggawa keamanan berpangkat briptu yang bergoyang ala Hindustan, negri sesepuh para wayang.
Sebuah organisasi non kerajaan yang selama ini mengurusi hiburan murah nan merakyat, bola sepak, seolah tak mau ketinggalan dalam menyumbang kekisruhan negri. Dursasana, sang pemimpin yang sudah berulang kali bolak-balik penjara akhirnya lengser secara paksa. Kahyangan sudah tidak menghendaki kepemimpinannya. Namun antek Dursasana terlanjur mengakar dan merajalela. Meski Citrakandha, sang sekjen, telah berusaha (seolah-olah) elegan mengundurkan diri, namun banyak anak buahnya yang tak rela dengan kondisi suksesi ini berjalan lancar. Mereka berlomba mencari (sekaligus mengaku-ngaku punya) akses ke kahyangan untuk meminta petunjuk penghuni langit. Dewan kahyangan akhirnya menunjuk beberapa wayang untuk menjadi Komite Penormalan. Tapi lagi-lagi komite ini juga mendapat mosi tidak percaya karena petunjuk dewa tidak selaras dengan yang diinginkan 78 pemilik (penyambung) suara Dursasana.
Semetara itu Adipati Karna, komandan punggawa keamanan kerajaan kembali dibuat pusing dengan munculnya lagi teror bom yang mengguncang negri. Senapati berkumis tebal itu tak habis pikir apa sebenarnya yang dimaui oleh para orang-orang konyol yang menebar teror berkepanjangan, apalagi beberapa waktu silam prajuritnya ada yang sudah kehilangan tangannya akibat bom buku. Lagi-lagi angin pemberitaan meliuk tajam, kabar teror bom tersebut segera menenggelamkan berita tentang nasib kawula yang sedang disandera perompak di Jazirah Banakeling, negri di barat dunia wayang yang berbatasan dengan Kerajaan Samudra.
Ketika dicegat para juru warta istana untuk dimintai tanggapannya tentang kekisruhan negri yang berlarut-larut, Baginda Prabu Duryudana hanya berhenti sesaat dan berkata pelan,
"Maaf, saya lagi sibuk mempersiapkan pernikahan putraku dengan putri senapati berambut putih itu,dan tentang keruwetan negara ini, saya sudah berkali-kali menyampaikan melalui media, yaitu SAYA PRIHATIN !"
-------------
Gendhing monggang mengalun pelan seiring meredupnya blencong..

*gambar nyolong dari Jawapos

Thursday, March 24, 2011

Sedikit hati...

Seorang gadis remaja yang baru datang dari daerah pegunungan selatan. Baru pertama kali ini ia menggunakan jasa angkutan umum di kota ini dengan sistem pembayaran baru. Identifikasi tiket kendaraan itu dengan memasukan selembar kartu pada mesin sensor. Bila kartunya dimasukan secara terbalik, maka mesin akan berdering pertanda bahwa harga tiket belum terbayar. Karena itu sang gadis ini memperhatikan secara seksama bagaimana orang-orang menggunakan mesin tersebut.

Di sela-sela itulah, ia melihat sepasang manusia, seorang anak putri dan ibunya yang sudah ubanan. Derap langkah sang ibu tertatih pertanda bahwa ia telah lanjut dimakan usia. Tentu saja ia tak memiliki cukup tenaga. Tangan dan kakinya gemetar ketika menaiki anak tangga bus kota tersebut. Tapi anehnya, anak tersebut terus mendesak dari belakangnya,

“Cepat naik...!! Lambat betul sih.”

Sang gadis kampung yang baru datang dari gunung itu kini terpana. Tak pernah ia mendesak ibunya secara demikian. Tak pernah ia berlaku kasar terhadap ibunya. Ia pasti akan menuntun ibunya, memegang tangannya yang telah keriput agar ia dengan selamat masuk ke dalam bus. Tapi huh bengisnya anak ini. Demikian pikirnya.

Ternyata itu belum cukup. Sang ibu tak tahu bagaimana harus menggunakan kartu tiket, ia tak tahu bagaimana harus memasukan tiket itu ke dalam mesin. Mesin sensor tak henti-hentinya berteriak mengatakan bahwa sang ibu tua itu belum membayar. Tapi anehnya, sang anak hanya memandang dingin bagaimana sang ibunya harus berhadapan dengan kenyataan ciptaan teknologi yang tentu saja tak pernah ada dalam hidupnya sebelumnya. Tangan yang keriput dan gemetar itu terus dipermainkan mesin beku tersebut tanpa memperoleh bantuan.

Kenyataan ini seakan mengiris batin gadis kampung tersebut. Ia terkejut. Hatinya memberontak, hatinya menjerit. Ia ingin membantu sang ibu tersebut, namun ia sendiri belum begitu paham bagaimana harus menggunakan mesin tersebut. Ia sedang belajar. Anehnya semua orang lain yang ada dalam bus kota inipun seakan mati, seakan buta, seakan tak melihat betapa pedihnya sang ibu dipermainkan mesin tersbut. Beginikah manusia hasil ciptaan teknologi canggih? Beginikah manusia metropolitan yang seakan berubah beku? Beginikah manusia kota yang seakan telah kehilangan sebongkah hati?

Huh... kalau seandainya kita cukup menggunakan sedikit hati... Menggunakan sedikit hati mengulurkan tangan membimbing sang ibu menaiki tangga bus ini... Seandainya kita menggunakan sedikit hati untuk mengatakan kepada sang ibu bahwa kartu yang dimasukan ke mesin itu dalam posisi terbalik... Seandainya semua penumpang bus ini menggunakan sedikit hati.. Seandainya semua manusia yang mendiami bumi kita ini menggunakan sedikit hati untuk saling memperhatikan, untuk memandang dengan penuh kasih, untuk memberikan seulas senyum, pasti dunia kita ini akan berubah menjadi dunia yang indah. Demikian sang gadis desa dari pegunungan selatan ini bermimpi. Ia bermimpi di siang hari di tengah sesaknya bus kota ini. Ia bermimpi di antara tumpukan manusia yang hatinya seakan telah berubah beku ini.

Bus masih merayap pelan, sementara gerimis mulai turun..

Friday, February 25, 2011

Angin

“Aku tidak tahu mengapa kita semua telah menjadi bangsa yang tegar tengkuk. Celakanya, dalam banyak segi, kita melakukan perbuatan-perbuatan itu demi nama Tuhan. Padahal yang kita perjuangkan hanya kepentingan kita sendiri. Karena kita telah menjadi korban, maka kita pun lalu mengorbankan orang-orang lain. Orang-orang yang sering tidak bersalah sama sekali. Maka apakah sungguh adil jika kita memperjuangkan keadilan dengan melakukan ketidak-adilan? Apakah sungguh benar jika kita berupaya menegakkan kebenaran dengan melaksanakan hal-hal yang melanggar kebenaran itu sendiri? Cobalah untuk merenungkan, bagaimana perasaan kita sebagai korban. Begitulah perasaan mereka juga yang telah kita korbankan. Atas nama apa pun juga....”

Demikianlah, kemarin seorang bapak tua mengungkapkan perasaannya saat menonton tivi di poskamling yang menayangkan berita tentang kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Pembunuhan. Pemerkosaan. Penindasan. Teror. Kita memang hidup di zaman dimana percepatan informasi telah menciptakan gelombang sensasi sehingga dengan mudah kita melakukan pembalasan bukan untuk pembalasan itu sendiri. Tetapi demi popularitas dan demi menyatakan keberadaan kita di dunia ini. Kita ingin orang-orang tahu bahwa kita sungguh eksis, bukan hanya sebagai batu-batu yang diam yang mudah untuk dipermainkan begitu saja. Maka kita melakukan aksi. Agar kita dikenal. Agar kita ada.

Perlukah itu? Saya meragukannya. "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Sabda itu terus menggema di hatiku, saat membaca berita tentang kekerasan berbau SARA beberapa waktu lalu. Kekerasan hanya membuahkan kekerasan. Pembalasan hanya mendatangkan pembalasan. Dan sampai kapankah ini berakhir? Tidakkah semuanya hanya sia-sia saja? Untuk apakah kita eksis jika kita harus mengenyahkan keberadaan yang lain? Demi suatu keseragaman? Atau untuk apakah kita kita eksis jika kita hanya eksis demi diri kita sendiri saja? Bukankah Gusti Yang Maha Bijaksana, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Maka apabila kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu, apa upahmu?

Tetapi kita memang hanya manusia yang lemah. Kita tak pernah belajar dari sejarah. Kita selalu ingin agar kebenaran dapat ditegakkan. Tetapi sayang bahwa, kebenaran itu hanya menurut versi kita sendiri saja. Maka kita hanya dapat melihat selumbar di mata orang lain tanpa peduli pada balok di mata kita sendiri. Kita menjadi insan yang tegar tengkuk, insan yang hanya dapat memandang kemauan kita sendiri saja sebagai kebenaran yang pasti. Dan harus ditegakkan. Sambil menganggap keberadaan yang lain hanya sebagai angin yang lalu saja. Kita lupa bahwa angin itu dapat menjadi badai yang dapat merobohkan apa saja. Termasuk diri kita sendiri. Maka jika para korban-korban itu suatu saat kelak menjadi badai, siapakah yang harus disalahkan?

“Cobalah merenungkan perasaan mereka yang telah menjadi korban…" Ya, marilah kita tidak hanya saling menyalahkan, tetapi juga saling memahami satu sama lain. Sebab mereka serupa angin. Dan angin dapat berhembus dengan lembut dan menyibakkan rambut kita dengan segenap kesegarannya. Tetapi dapat juga menjadi topan badai yang dapat merusak dan merobohkan rumah kemanusiaan kita semua. Sebab hanya ada satu bumi.

Hanya satu bumi.

Friday, February 11, 2011

Waktu, Kehidupan..

Aku memandang pohon belimbing yang tumbuh di samping rumah. Aku mengenang saat beberapa tahun lalu aku menanam pohon itu, saat itu dia masih amat munggil, kecil dan nampak lemah tak berarti. Aku kagum melihatnya sekarang. Aku juga memikirkan pada keponakan kecilku yang beberapa hari lalu kujumpai. Aku ingat saat terakhir aku melihatnya, dia hanya seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Beberapa hari lalu, yang kujumpai sudah menjadi gadis remaja yang centil dan manis. Kehidupan nampak bergerak di dalam segala sesuatu yang hidup. Dan waktu tidak menyisakan apa-apa bagi kita yang selalu terkungkung dalam masa lalu, kecuali kenangan.

Seberapa banyakkah kita telah berubah? Sadarkah bahwa kita telah berubah? Apakah arti kesedihan dan kegembiraan yang telah kita alami selama menjalani waktu-waktu keberadaan kita? Kita menangis. Kita tertawa. Kita berduka. Kita bahagia. Berapa banyakkah yang telah kita tinggalkan di masa lalu? Berapa banyakkah yang masih akan kita alami di masa depan? Sadarkah kita hari ini? Apakah memang hidup ini hanya sebuah penantian panjang menuju akhir? Apakah arti keberadaan kita saat ini? Untuk apa kita merasakan? Untuk apa kita berpikir? Apa gunanya semua kehidupan yang kita jalani selama ini? Untuk apakah kita ada di sini? Untuk apakah?

Kehidupan terkadang terasa sebagai suatu barang aneh yang kita jalani tanpa dipikirkan. Kita lahir. Kita bermain. Kita bercinta. Kita bergaul bersama teman dan sesama. Kita menikmati kebersamaan dalam keluarga kita. Baik atau buruk, kita ada dan menjalaninya, sering tanpa merasakan keberadaan kita sendiri. Kita lelap dalam rutinitas seharian. Tertawa. Menangis. Dan waktu bergulir terus tanpa kita sadari. Waktu bergulir terus. Kita mulai menua. Setiap tahun kita memperingati ulang tahun kelahiran kita. Mungkin dalam sunyi. Mungkin dalam derai tawa. Namun waktu keberadaan kita kian memendek. Dan kita sering gagal memahaminya. Atau tak peduli mengenai hal itu. Atau kita tak mau bersusah hati menghadapinya. Hidup telah berjalan dengan normal selama kita menjalaninya apa adanya. Kita, sang manusia, ada dan berada dengan segala kesusahan dan kesenangan kita, seringkali melupakan lewatnya sang waktu yang datang dan pergi dalam diam. Ah, sang waktu yang deras mengalir sesuai dengan perasaan kita....

Pohon belimbing yang dulu amat mungil dan lemah kini tumbuh menjadi sebuah pohon yang kuat dan tinggi. Keponakan kecilku yang dulu imut dan menggemaskan kita telah berubah menjadi seorang remaja yang lincah dan dewasa. Kita sadar bahwa saat ini tak lagi sama dengan saat kemarin. Tahu bahwa segala keputus-asaan dulu tak lagi punya makna saat ini. Untuk apakah kita bersedih hati? Jika pada akhirnya kita tahu kepastian apa yang akan dihadapi, perlukah segala rasa takut dan khawatir akan hari-hari kemudian? Sepi dan sunyi saat ini. Sepi dan sunyi. Tetapi manusia manakah yang tidak mengalami dan menyadari kesendiriannya dalam sepi dan sunyi itu? Manusia manakah? Kita, manusia. Kita, ada dan hidup. Kita merasa dan berpikir. Kita bersedih dan bergembira. Dalam waktu, kita hanya dapat lewat sejenak untuk istirahat selamanya...

Urip iki mung mampir ngombe.

Friday, January 21, 2011

Hujan siang hari

Genangan air sudah mencapai halaman depan kantor. Hujan masih deras dan aku hanya duduk terpaku menikmati tirai air yang demikian tebal di depanku. Langit kelam dan udara terasa sejuk. Aku melihat seekor kucing kecil melompat di bawah guyuran air sambil mengebaskan bulunya. Pohon sukun yang tumbuh di halaman kantor, daunnya melambai-lambai terhembus angin yang cukup kencang. Rerumputan di luar pagar depan lelap dalam genangan air dan hanya menyisakan sedikit pucuknya, seakan timbul tenggelam dalam terpaan air saat sebuah kendaraan melintas. Genangan air yang berwarna coklat memenuhi hampir seluruh permukaan jalan. Dan hujan tidak juga berhenti.

Sayup-sayup dari ruang sebelah, aku mendengar nyanyian, sepertinya suara dari seorang teman kerja yang siang itu merasa kesepian tetapi enggan untuk keluar, menerobos genangan air yang cukup tinggi ini. “Tuhan, kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati.....” Ah, siapakah yang sedang dirindukannya di siang kelam ini? Hujan, memang sering membuat suasana hati kita menjadi romantis. Dan aku menatap ke langit. Mendung masih saja tebal. Kemudian aku melihat ke kucing kecil yang kini tidur melingkar di pojokan teras yang kering. Suasana demikian tenang dan hanya dipenuhi suara hujan, daun dan nyanyian yang jauh menyelusup ke dalam perasaanku.
Ah, indah!

Tiba-tiba saja perasaanku dipenuhi rasa damai namun riang. Betapa kontrasnya. Udara yang muram di luar namun hati yang senang di dalam. Ternyata bahwa, apa yang aku rasakan tak harus sama dan mengikuti suasana yang mengelilingi diriku. Dan kukira, selayaknya jika hidup kitapun demikian adanya. Hidup yang sulit mungkin saat ini sedang mengelilingi kita, namun hati kita tetap bisa bernyanyi riang. Ya, saat ini tiba-tiba aku pun ingin menyanyikan satu lagu tentang rindu. Rinduku pada sesama, rinduku pada alam, rinduku pada rindu itu sendiri. Ah, indahnya!


Demikianlah, siang ini, di tengah derasnya hujan, di depan genangan air yang memenuhi jalan depan kantor, bersama seekor kucing kecil yang sedang melingkar di pojok teras, bersama pepohonan sukun dan reruputan, serta ditemani suara nyanyian yang sayup-sayup tiba, aku menuliskan ini dengan penuh rasa damai. Aku ingin tersenyum padamu. Aku ingin tersenyum pada dunia. Aku ingin tersenyum pada Tuhan. Aku ingin tersenyum pada apapun yang saat ini sedang menimpa hidupku. Aku larut dalam suasana hati yang tenang saat mendung tebal memenuhi langit. Dan mendadak aku merasa Gusti Yang Maha Ramah pun tersenyum padaku juga. Ya, Dia tersenyum padaku saat aku bisa menerima apa saja yang sedang kualami saat ini.


Hujan belum juga reda.
..

Thursday, December 30, 2010

pungkasane warsa

Tahun rongewu sepuluh wis ngancik tumeka pungkasane. Akeh kedadeyan sak dawane tahun sing kudune bisa dadi pekeling tumrap manungsa. Seneng susah, bejo apes, tumus cidra lan sapanunggalane sing wis kelakon, tansah ngemu pelajaran sing bisa dadi pengati-ati kanggo nglakoni dalan-dalan ing wektu sing bakal teka.

Sedulur, sliramu kabeh ya mesthi nduweni gegayuhan lan pangarep-arep ing tahun rongewu sewelas ing ngarep iki. Apa wae resolusine kuwi , ayo, awake dhewe tetepa tansah ndedonga muga Gusti paring ridho lan dalan kang paling apik (
the best - ?) tumuju tumuse gegayuhan. Uga tansaha eling marang pengangger-anggere Kang Maha Winasis, saengga ora malah kejlomprong marang dalan kang ora sakmesthine.

Sedulur, muga tahun kang arep teka iki dadia tahun kang endah lan kebak berkah kanggo sak kabehing titah. Amin.

Sedulur, pranyata angel gawe tulisan nganggo basa dhaerah, ya ? he..he.. Sepurane, sedulur.

Monday, October 18, 2010

Aku Menabrak Mobil


Sore itu aku baru pulang kerja, aku turun dari angkot tepat di depan sebuah kios foto copy. Aku mengeluarkan beberapa lembar berkas yang memang perlu ku-copy, lalu aku serahkan ke penjaga kios tersebut. Namun si tukang foto copy menolak sambil mengatakan kalau mesinnya lagi rusak. Aku menoleh ke seberang jalan, syukurlah, ada kios foto copy yang lain. Segeralah aku beranjak bermaksud menuju ke sana.

Sesuai pesan pak polantas, sebelum menyeberang jalan kudu tengok kiri kanan dan pastikan aman tidak ada kendaraan yang melintas. Aku pun bertindak demikian. Setelah yakin tidak ada mobil maupun pengguna jalan lain yang melintas, dengan langkah mantap aku segera menyeberang. Namun beberpa saat kemudian.. "praakkk!!" aku menabrak sebuah mobil yang baru saja diparkir di samping kios foto copy yang kutuju. Tanpa tolah-toleh --demi menghindari pandangan orang yang cekikikan-- :D aku langsung saja menuju kios foto copy sambil memegangi kepala yang rada pusing.

Satu pelajaran lagi kudapat hari itu, bahwa pesan yang menyarankan untuk tengok kiri kanan sebelum menyeberang jalan ternyata kurang lengkap. Harusnya, "tengok kiri kanan lalu pandang ke depan dan pastikan keadaan aman" !!

Friday, September 3, 2010

Rajawali



Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu. Burung rajawali memiliki keunikan, jika ia berada di alam bebas, akan menjadi burung yang paling bersih di antara burung lainnya, tapi jika dia berada di dalam 'penjara' dan terikat, ia akan menjadi burung yang paling kotor. Hal ini dikarenakan rajawali mengkonsumsi makanan yang berbeda dengan burung lainnya.

Dan Gusti sang pencipta menitahkan kita untuk selalu terbang dan berada di tempat yang tinggi, yaitu selalu berada dalam panduan-Nya dan bebas dari kontrol dunia, manusialah yang seharusnya mengontrol dunianya. Kala manusia terjerat (atau menjeratkan diri) dalam ikatan-ikatan duniawi, ia akan menjadi orang yang terkotor dibandingkan dengan orang lain.

Friday, August 27, 2010

Musuh imajiner

Suatu malam, seorang lelaki bermimpi buruk. Dalam mimpinya ia melihat seseorang berambut cepak, bersepatu lars. Ketika kedua mata mereka berpapasan, tiba-tiba orang tersebut mengeluarkan kata-kata cacian, kata-kata pedas yang ditujukan padanya. Orang tersebut juga secara kejam meludahi wajahnya. Sungguh suatu penghinaan yang teramat besar. Selama hidupnya belum pernah ia dihina seperti ini.

Saat bangun pagi, dipenuhi dengan perasaan yang kurang enak ia mengingat kisah hina yang menimpa dirinya dalam mimpi semalam. "Sejak kecil hingga kini aku belum pernah dihina oleh orang lain. Tapi malam tadi, aku bukan saja dihina, bahkan wajahkupun diludahi. Aku sungguh tidak bisa terima diperlakukan secara demikian. Aku harus menemukan orang ini dan memberikan imbalan yang setimpal," gumam lelaki itu penuh rasa benci sambil menggertakan giginya.

Sejak itu, setiap hari setelah bangun tidur ia akan berdiri di persimpangan jalan yang ramai dilewati orang, dengan harapan suatu saat bisa menemukan musuh yang dilihatnya dalam mimpi itu. Seminggu, sebulan, setahun kini berlalu. Orang yang dicari itu tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Lelaki tersebut telah menghabiskan separuh dari waktu hidupnya hanya demi sesuatu yang tidak nyata. Ia meracuni hatinya sendiri dengan rasa benci hasil ciptaannya sendiri.

Sering kita menciptakan musuh yang tidak nyata, dan memupuk kebencian dalam hati yang pada baliknya merupakan racun yang menghancurkan diri sendiri. Apakah anda juga memupuk kebencian dalam hati anda?

Monday, July 26, 2010

Terjerat kesibukan

“I’m shining like a candle in the dark,
when you tell me that you love me”



Aku bersinar bagaikan lilin dalam kelam, saat kau katakan bahwa kau mencintaiku. Demikian alunan lembut Diana Ross mengisi ruang coffee shop yang dingin ber-AC saat kulihat dia memasuki pintu utama. Sendirian. Dengan wajah yang riang dia mendatangi mejaku. Kami lalu bersalaman. Empat belas tahun lebih kami tidak bersua. Dan kini, jauh dari kota kelahiran, kami kembali menuturkan masa silam. Tentang kenangan indah yang telah lelap dalam waktu. Sebuah reuni.


Beberapa waktu setelah pertemuan itu, aku merenungkan suatu hal yang terasa ganjil. Hampir dua jam kami bersama, bertukar tutur. Tetapi antara kami terbentang keterasingan hati. Keakraban masa lalu telah menjadi fosil. Yang kami perbincangkan hanyalah kulit-kulit kehidupan. Dia dan aku. Dan istrinya yang tidak sempat hadir karena tertelan kesibukan pekerjaannya. Waktu nampak seperti raksasa bengis yang merobek-robek kehidupan. Kehiruk-pikukan mengasingkan kami satu sama lain. Inikah hakekat kemoderenan? Saat komunikasi semakin tidak mengenal tapal batas, saat itu pula hubungan muka dengan muka antar individu semakin menjauh.

“Saya merasa bahwa kita sedemikian tenggelam dalam kesibukan, bahkan hingga tidak ada waktu lagi untuk memperhatikan dan memberikan senyuman kepada satu sama lain,” kata Bunda Teresa menyikapi situasi keterpencilan manusia-manusia modern. Hidup kian menegangkan. Tiap orang mencari kesejahteraannya dan menafikan keberadaan yang lainnya. Hidup menjadi sebuah perjalanan dalam labirin yang tidak lagi diketahui ujungnya. Pada akhirnya, kita hanya berputar-putar tanpa arah dan tanpa tujuan kecuali demi kesenangan hidup yang sesaat saja. Kita saling meninggalkan dan ditinggalkan. Sepi, sendiri dan terkucil. Kebersamaan mati. Tempat kediaman yang kita bangun kita kelilingi tembok tebal serta pagar berduri. Jiwa dan perasaan kita pun terpagari dengan topeng tebal, menolak siapapun yang mencoba masuk. Tak mengenal dan dikenal. Terasing satu sama lain.

Aku bersinar bagaikan lilin dalam kelam, saat kau katakan bahwa kau mencintaiku, desah Diana Ross. Tidakkah seharusnya kita menyatakan hal itu juga? Kita, satu sama lain, jika saling peduli dapat menerangi dunia yang gelap ini. Mengapa hal itu terasa demikian sulit? Mengapa kita selalu dikungkung oleh kesombongan, keengganan atau rasa takut ditolak hingga sudi mematikan cinta itu sendiri? Mengapa? Haruskah pengejaran terhadap materi semakin menjauhkan kita satu sama lain? Dan kalau begitu perlukah kebersamaan itu? Tidakkah lebih baik kita mengunci diri dan tenggelam dalam kebisuan kita masing-masing? Kebisuan dan kehampaan di dalam jiwa yang terkungkung oleh segala nafsu, ambisi dan keakuan kita?


Kian kita merasa menjadi modern kian terasing pula kita satu sama lain. Hanya kesuksesan dan keberhasilan dalam bentuk materi, kekuatan dan kekuasaan yang menguber hidup. Suara hati menjadi sayup dan menjauh. Empati menjadi gaung masa lampau yang tak bermakna dan tidak lagi menyentuh kita. Maka aku dan dia, duduk bersama, saling bertukar kisah tetapi melulu tentang apa-apa yang terjadi di luar dari diri sendiri. Sedang nasib diri hanya tertinggal dalam tahanan yang tak ingin dikenal, tak ingin diketahui. Lelap dalam rahasia kegelapan hidup masing-masing. Maka tepat pada waktunya, dia pun meninggalkanku. Waktu menguber kami. Waktu dalam jadwal. Waktu untuk hidup. Waktu yang membuat hidup menjadi asing satu sama lain. Desahan Diana Ross hanya bergaung sepi sendiri. Lalu menghilang perlahan-lahan.

Menghilang perlahan-lahan.