Saturday, September 27, 2008
digoreskan oleh
sayurs
pada
11:06 AM
22
komentar
Saturday, September 20, 2008
Bulan suci
Bulan Ramadhan sering disebut bulan suci meski dalam Al Quran tidak ada pernyataan mengenai label suci ini. Bahkan banyak orang yang berlebihan dalam mensucikan bulan ramadhan, dan sambil mengatasnamakan Tuhan mereka melakukan kerusakan atau kezaliman. Yang begini ini yang malah merusak Islam dan mencemari kemuliaan umat Isalm. Lha wong bulan Ramadhan itu bulan yang didalamnya kita diseru untuk melatih diri agar kita bisa mengendalikan hawa nafsu, kok malah ada yang anarki.Warung nasi dan restoran yang buka di siang hari selama ramadhan itu ya untuk mereka yang berat menjalankannya. Warung makanan buka di siang hari itu untuk memenuhi kebutuhan orang yang sedang sakit, orang-orang yang amat berat pekerjaannya, orang yang sedang dalam perjalanan jauh alias musafir, dan bagi mereka yang beragama lain. Sang Maha Pembuat aturan memberi toleransi bagi mereka yang tidak mampu menjalankan aturan-Nya, dan sudah disiapkan pula panduan mekanisme kompensasi penggantinya. Kembali lagi, warung makanan yang buka pada siang hari itu tidak ditujukan kepada yang berpuasa. Yang berpuasa kalau mau jujur dan positive thinking pada dirinya ya tidak akan membatalkan puasanya gara-gara melihat ada warung yang buka.
Gusti Yang Maha Pemurah menghendaki kemudahan bagi manusia dan tidak menghendaki kesukaran. Termasuk tidak adanya larangan bagi umat yang memang jalan rejekinya dengan menjajakan makanan atau membuka warung makan. Sayangnya banyak orang yang malah tidak bisa menerima pernyataan Allah tersebut. Jelas, Sang Khalik memberikan kemudahan, tapi kita sok kuasa dan akhirnya memberikan kesukaran bagi orang lain. Bagaimana kita bisa bersyukur bila perilaku kita menyulitkan orang lain? Sekali lagi Beliau tidak menghendaki kesukaran pada umatnya dengan merumitkan term of conditions atas segala sesuatu.
Ada yang atas nama demi menghormati orang-orang yang berpuasa pada bulan ramadhan maka mengeluarkan larangan ini itu bahkan menyempatkan diri mengobrak-abrik tempat-tempat maksiat. Apakah tempat-tempat itu menjadi boleh (atau halal) melanggengkan maksiat saat ramadhan telah lewat? Apakah orang-orang yang menjalankan puasa-puasa sunah di luar ramadhan tidak perlu dihormati hanya karena mereka minoritas, sehingga yang perlu dihormati hanya pelaksana puasa ramadhan yang dijalankan serentak bersama-sama orang banyak ?
Berpuasa itu bertujuan untuk meraih sesuatu yang luhur, yaitu untuk membangun diri hidup di jalan yang benar. Dengan berpuasa sebulan penuh kita dididik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kita bisa merasakan bahwa Gusti Pengeran itu dekat dengan kita. Merasakan dekat dengan-Nya adalah anugrah yang tiada terkira. Lha kok untuk mendapatkan itu kita maunya godaan-godaan yang ada dihilangkan, bahkan jika perlu dengan anarkis dan menyengsarakan orang lain. Bukankah semakin berat godaan atau ujian yang kita terima maka semakin besar pula peluang hikmah dan reward yang akan kita dapatkan? Makin besar rintangan yang kita hadapi maka makin lebar pula kesempatan kita meningkatkan iman jika kita berhasil melewatinya. Semoga..
digoreskan oleh
sayurs
pada
3:47 PM
19
komentar


