... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Thursday, February 28, 2008

Kumbakarna

Kumbakarna sudah merasa muak pada kehidupan keraton, maka ia menyendiri di rumahnya, Panglebur Gongso, bersama Togog. Sama sekali tidak peduli pada apa yang terjadi di keraton. Pada suatu hari ketenangan negeri Alengka terasa mencurigakan. Suasananya seperti dibuat untuk menyelubungi sesuatu. Naluri Kumbakarna mencium ada yang tidak beres, sesuatu pasti terjadi. Diutuslah Togog, sang abdi dalem, untuk menyelidik.

Dengan kemampuan ekstranya, konon Togog adalah dewa yang ngejawantah - seperti Semar, si abdi ini mampu menyusup ke sumber berita yang layak dipercaya dan paling aktual. Siang itu, setelah sidang kabinet yang melelahkan membujuk Dasamuka agar mengembalikan Shinta, Gunawan Wibisana ditebas oleh Dasamuka. Gunawan roboh dan mati seketika. Kematiannya dirahasiakan. Segenap kawula dan kadang sentana keraton yang ada di dalam istana tidak boleh keluar. Juga sebaliknya, yang di luar tidak diperkenankan masuk. Seluruh pintu dijaga super ketat demi rahasia ini.

Togog segera menyampaikan hal ini, Kumbakarna menggeram demi mendengar laporan sang abdi. Suaranya menggelegar di langit. Langkah kaki raksasa yang menahan amarah itu mengguncang bumi Alengka. Dia menuntut keadilan. Sepanjang jalan menuju istana, Kumbakarna mengamuk. Benteng dirobohkan, beringin ditumbangkan, taman-taman diobrak-abrik. Ibukota negeri bagai diterjang prahara.

Melihat amuk adiknya, Dasamuka bergidik. Dia memang sakti mandraguna, tapi Kumbakarna pun bukan tandingan biasa. Dia memilih sembunyi, disuruhlah patih Prahasta untuk meredam amarah sang adik.

"Ingat anakku, Kumbakarna," bujuk si patih, "bumi bisa kau telan bila kau mau, tapi jangan kau lupakan para kawula cilik yang tak bersalah, yang bisa jadi korban kemarahanmu, jika kau tak mau mengendalikan emosimu. Badanmu memang raksasa, anakku, tapi aku tahu, jiwamu satria sejati.."

Kumbakarna luluh dalam bujukan. Namun, sejak saat itu pula dia tidak mau lagi menyaksikan tingkah polah Dasamuka. Dia menyingkir, tak tega melihat kekejaman kakaknya. Bertapa tidur di Panglebur Gongso bertahun-tahun. Orang menyebut Kumbakarna seorang patriot, salah satu contoh perilaku satria utama. Tapi ada pula yang menilainya pengecut, satria yang rela mati konyol. Dianggap tidak berbuat sesuatu melihat kejahatan merajalela di depan matanya. Tapa tidurnya dianggap sikap skeptis yang tidak bertanggungjawab.

Kita paham, dunia wayang itu pralambang. Tidurnya Kumbakarna di sini tentu saja tidak berarti dia menggeletak di kasur dan asyik bermimpi. Tidur bisa diartikan menarik diri dari kehidupan politik. Menonaktifkan diri dari gemuruh riuh urusan kenegaraan yang ruwet. Dasamuka yang kolonial, ekspansif dan memuja superioritas diri telah membuat sang adik yang memegang teguh bahasa moral menjadi lelah badan sekaligus jiwa.

"Terserah, kalau suaraku tidak diperlukan," begitu arti tidurnya, "tapi tunggulah, keruntuhan akan menimpamu."

Rezim otoriter sering memunculkan hal seperti ini. Yang didengar oleh raja ya suaranya sendiri. Atau suara siapa yang bersedia menjadi bayangannya dan sendiko atas segala sikap dan tindakannya. Raja macam ini sangat anti pada suara tandingan. Akibatnya sistemisasi pembungkaman tak terelakkan. Penjara diperlebar.

Kumbakarna kecewa, lalu memilih jalan sepi. Satria yang melambangkan suara moral. Tindakannya diambil berdasarkan pertimbangan jangka panjang, demi kepentingan negara dan bangsa. Dia tidak memberontak melawan Dasamuka, memilih tapa tidur untuk memberi kakaknya kesempatan merenung. Tapi di sini pula kelemahan gerakan moral, lawan politik kelewat enak dibiarkan dan ditinggal tidur. Bebas merajalela..

Mahesa Jenar dan 'mantan pejabat'

Meninggalkan keluhuran derajat dan kekuasaan sebagai panglima wira tamtama Kerajaan Demak pada masa Sultan Trenggono, lalu memilih jalan darma sebagai seorang pendekar, berkelana membaur dengan kawula alit. Demikian dikisahkan S.H. Mintardja dalam Naga Sasra dan Sabuk Inten. Seperti umumnya pendekar, Mahesa Jenar hidup bersahaja, jauh dari kemewahan duniawi. Ia sudah mantan, namun baktinya pada negara, kemanusiaan dan nilai luhur masih begitu menggelora.

Manusia jenis apa sang tokoh ini ? Seseorang yang cocok untuk memenuhi kehausan zamannya akan kebutuhan seorang pahlawan pembela rakyat, yang seolah tanpa cela ? Atau tokoh naif kah dia, yang tak bisa memanfaatkan jabatannya untuk segi sosial ekonomi dan politisnya ? Kita tidak tahu pasti. Tindakan sosial sering memiliki motif yang sulit dijelaskan bahkan oleh pelakunya sendiri. Tapi, yang jelas, bila menjadi mantan di saat sekarang ini lalu meniru jalan Mahesa Jenar, maka ia ora keduman, tidak kebagian. Mantan pejabat negri ini tidak suka memilih jalan sepi ing pamrih itu.

Pada zaman kini, para mantan - kata Muhamad Sobary - memiliki dua ciri, menjadi pengusaha yang lebih serius, lebih profesional (dibanding saat masih jadi penguasa), atau berpolitik sebagai oposan. Berbaju kelompok oposisi, para mantan begitu bersemangat menyuarakan kepentingan rakyat, seolah kekacauan kondisi ini baru saja terjadi semalam. Orang kecil pun hanya bisa berbisik di belakang, "Betapa hebat jika sikap itu tampak dari dulu, ketika masih berkuasa. Kayaknya waktu mereka masih di singgasana, kita juga tidak merasakan hidup serba ideal."

"Vokal tanpa kekuasaan di tangan tak ada gunanya. Percuma !" kata seorang teman yang memilih DO dari kampus demi idealismenya.

"Mereka satria yang menghormati atasan. Untuk bersuara, mereka nunggu setelah bukan lagi menjadi bawahan," sahut kang Warjo, sopir angkot yang ngakunya pernah kuliah walau cuma satu semester.

Orang pun enggan menjadi mantan, ingin jumeneng (mempunyai posisi) terus. Kegelisahan rohani, karena orang tak lagi menegur sambil membungkuk lalu suka rela membukakan pintu mobil, pasti melanda. Ditambah lagi gangguan stabilitas sosial ekonomi politik dalam hidup pribadi dan keluarga juga menjadi resiko seorang mantan. Dari itu maka tak mengherankan jika para pejabat itu bersikap lembut pada "rakyatnya" yang di perguruan tinggi. Apalagi saat menjelang akhir jabatan. Mereka berharap perpanjangan "masa bakti" dengan menjadi profesor. Dalihnya, masih merasa terpanggil. Entah suara gaib dari mana yang memanggil.

Sepertinya, mantan adalah gejala yang menakutkan, atau malah wujud dari ketakutan itu sendiri. Kalaupun menjadi mantan sudah tidak bisa lagi terhindarkan, maunya menjadi mantan yang makmur. Mobil dinas tak usah dikembalikan. Fasilitas lain kalau bisa jangan drastis dihentikan. Perlu yang namanya periode transisi. Sementara itu, tradisi makan malam di hotel masih harus dipertahankan. Pokoknya jangan seperti Mahesa Jenar, dingin, sepi, di rimba belantara, jauh dari kafe dan credit card.