... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Monday, August 6, 2007

Tegal...

Tegal, buat saya, adalah kota kenangan. Masa sekolah menengah dulu di sana adalah masa yang paling tidak terlupakan. Teman-teman, warung tempat biasa makan dan moci (minum teh dengan poci), gang-gang kecil yang biasa dilalui, bagai masih lekat di pelupuk mata batin. Andai mungkin, rasanya ingin sekali saya kembali ke masa itu.

Akan tetapi Tegal kini sudah banyak berubah. Bangunan megah baik toko maupun perkantoran bermunculan, jalan-jalan juga sudah banyak yang berbeda. Sekolahan pun yang dulu bagai rumah sendiri kala mengikuti kegiatan ekstra, akrab dan penuh gelak, kini bagai tanah asing.

Hidup memang tidak pernah tetap, selalu berubah. Maka berhati-hatilah dengan kenangan akan masa lalu, sebab itu bisa menjadi jebakan, membuat kita lupa kekinian dan kedisinian.

sang wakil rakyat

Seorang wartawan berhasil menerobos pagar pasukan polisi yang sedang mengawal demo didepan gedung dewan. Lalu dia masuk gedung dewan dan berhasil mewawancarai seorang ketua fraksi.

"Bagaimana pendapat bapak mengenai situasi di luar sana, antara lain mahasiswa berdemo?"

"Bagus sekali. Saya juga dulu mengawali karir saya seperti anak-anak sekarang ini. Waktu SMP hingga SMA hampir tiap hari tawuran antar pelajar. Waktu mahasiswa saya aktif demonstrasi dan di waktu senggang saya sempatkan buat refreshing, ya.. sedikit fly lah. Setelah lulus kuliah, sambil cari kerja, saya nyambi jadi preman. Kemudian setelah kerja, ya dengan jurus kolusi itulah saya sempat jadi menteri, anggota dewan dan hingga sekarang ini. Jadi yang dilakukan anak-anak sekarang, baguslah sebagai langkah buat masa depannya !"