Saat Obama - yang pernah tinggal di Indonesia - terpilih lalu terlantik sebagai presiden Amerika, banyak warga negri kita tercinta ini yang larut dalam euforia, bahkan lalu tak sedikit yang sambil menepuk dada meninggikan status dengan menyiarkan diri sebagai teman sekolahnya, temannya teman sekolahnya, adiknya teman sekolahnya dan seterusnya. Pokoknya bikin bangga banget lah punya sangkut paut dengan sang presiden itu.
Bahwa bekas siswa sebuah sekolah di negeri kita ada yang menjadi presiden negara adidaya itu memang membanggakan, tapi menurut saya kok rasanya ga perlu terlalu muluk-muluk berharap dengan statusnya yang 'pernah tinggal di sini' kaitannya dengan hubungan antar negara. Saya lebih bangga pada saat si Barry secara spontan merespon sapaan stafnya dengan bahasa kita. Bahwa bahasa Indonesia pun layak di konsumsi *halah* di gedung super power itu. Itupun tak lantas ada kaitannya dengan kualitas hubungan bilateral. Ah, tapi membanggakan diri sebagai seorang yang bersangkut paut dengan yang berbau Amerika pun ga salah kok, itu juga hak.
Masih tersimpan memori bagaimana petinggi negara ini rela mengorbankan kepentingan dan kenyamanan banyak warganya demi pengamanan super ketat pesanan negri super paranoid itu saat kunjungan presidennya beberapa waktu lalu.
Selanjutnya muncul kebanggaan baru lagi, bahwa menlu-nya akan berkunjung ke sini. Diartikan bahwa Indonesia masuk dalam negara-negara besar dengan disebutkannya nama negeri ini dalam (baru) rencana (!) kunjungan itu. Duuh.. Amerika memang hebat, baru merilis rencana kunjungan saja sudah bikin melayang perasaan. Record kebrutalannya di Irak dan Afghan serta minimnya respon atas tabiat Israel di Palestina yang notabene negara-negara sesama mayoritas muslim, sirna begitu nama negri ini terucap dalam pidato sang menlu. Pokoknya, Amrik gitu loch..
Amerika ki sopo !!
ilustrasi nyolong dari www.wahyukokkang.wordpress.com



