Di sebuah perempatan di kampungku, mangkal sejumlah kecil tukang ojek. Satu diantaranya seorang yang kumisnya sudah memutih sempurna. Oleh rekan-rekannya dipanggil “Pakdhe” karena memang terlihat paling tua diantara mereka. Motor tua keluaran tahun tujuh puluhan yang ia pakai narik tidak pernah ia pacu dengan kecepatan tinggi layaknya ojek di kampungku. Disamping karena memang sang motor tidak mungkin bisa lari kencang, kakek satu ini mengantar penumpang dengan mengutamakan keselamatan. “Biar pelan asal jalan, lambat asal selamat,” kata Pakdhe.
Ketika sebuah angkutan berhenti mendadak, dan kakek itu terpaksa menginjak rem secara mendadak juga, sehingga ujung ban sepedanya hampir menempel bagian belakang angkudes itu, Pakdhe bukan hanya tidak marah, melainkan malah merasa beruntung.
“Untung tidak nabrak,” katanya kalem.
Ketika truk pasir memepetnya di trotoar, dia cuma menggerutu, piye to truk iki karepe (“apa maunya truk ini”). Rem diinjak dengan kalem. Tak ada makian apa-apa. Yang ada malah sikap syukur, karena bagaimanapun semuanya selamat.
Prinsip “asal selamat” ini tak hanya berlaku di jalan saja. Dalam tiap langkahnya Pakdhe menomorsatukan keselamatan. Dulu ia pernah bekerja di sebuah kantor pemerintah. Memang, ia hanya pegawai rendahan. Tapi ia pernah menolak perintah atasan untuk menandatangani kuitansi fiktif. Semua pegawai sudah tanda tangan, dan mereka kebagian rejeki. Cuma si kakek ini yang tak mau.
“Saya butuh uang seperti mereka juga. Tapi saya tak setuju caranya,” katanya. “Cara itu tidak membawa selamat.”
“Bukannya atasan yang menyuruh? Atasan menanggung semuanya, kan?” tanyaku.
“Betul. Tapi atasan saya itu punya atasan. Dan atasannya atasan saya itu juga punya atasan lagi. Raja yang paling berkuasa pun punya atasan. Kepada atasan yang paling atas itu saya takut..,” katanya.
Tukang ojek tua ini mengingatkan kita pada sajak Taufiq Ismail, Kisah Kakek dan Cucu Keluarga Chameleon. Bunglon alias chameleon memiliki kemampuan untuk secara alamiah menyelamatkan diri dengan cara mengubah warna kulit sesuai keadaan sekitar. Dalam sajak itu, kakek bunglon menceritakan pengalamannya bahwa ia pernah ditangkap manusia. Dokter hewan yang bisa bicara bahasa bunglon telah memindahkan bintil-bintil di bawah kulit dan getah di ujung lidah si kakek bunglon, ke tubuh manusia.
“Dalam waktu dua musim hujan saja, sesudah bintil-bintil itu masik ke ke kulit manusia, manusia di dunia ini sudah lebih sempurna cara berganti warna mereka. Dan lidah mereka semakin bergetah keadaannya,” tulis Taufiq Ismail lagi.
Teman-teman Pakdhe di kantornya dulu mungkin juga sudah menjadi bunglon. Mereka menyesuaikan warna “tubuh” mereka dengan warna “tubuh” sang atasan. Itu “ilmu selamat” dalam pengertian mereka. Sebab kalau menolak, atasannya akan menganggap mereka sebagai klilip (penghalang) dan harus disingkirkan. Nasibnya bisa jadi sama dengan Pakdhe, terpental.
Di sini ada dua fenomena, menurut Mohammad Sobary, : Pakdhe dan kawan-kawannya. Pilihan susah ketika kita harus memilih satu diantara keduanya. Dua-duanya punya justifikasi sebagai “ilmu selamat”. Barangkali, umumnya kita adalah potret dari kawan-kawan Pakdhe karena dua alasan. Pertama, kita umumnya lebih mengutamakan upaya penyelamatan jasad ketibang roh. Kedua, kita diam-diam telah menukar kulit kemanusiaan kita dengan kulit bunglon.
Hmmm..


