... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Wednesday, June 4, 2008

Agama baru ...

Ajang sepak bola Piala Eropa 2008 yang digelar di Austria-Swiss sebentar lagi tentu membakar atmosfir penggila bola di seluruh dunia. Pesonanya bikin geger para pecandu sepak bola di jagat ini. Selain menyuguhkan pertandingan kelas dunia yang diperagakan oleh lebih dari 300 pemain dari enam belas negara yang ikut adu otot dan adu strategi, juga mempesona para pengusaha jasa dan hiburan serta pemilik klub besar Eropa yang sedang mencari talenta baru untuk memperkuat skuad klubnya.


Ibarat sebuah drama menarik, Euro 2008 emang bikin pesona. Mampu menyihir dan menyita perhatian siapa saja yang merasa terlibat secara emosi di ajang gocek bola ini. Ketika tim-tim unggulan tersingkir di babak awal turnamen ini, para pemain, pelatih, penonton, dan seluruh pendukungnya di dunia hatinya sedih dan remuk. Lebih nelangsa lagi yang kalah taruhan, selain muram karena klub favoritnya angkat koper lebih dulu akibat tereliminasi, mereka juga menangisi duit yang ludes dipake taruhan judi.

Begitu sebaliknya, ketika jagoannya berhasil menggebuk lawannya apa lagi di pertandingan akhir babak penyisihan, semua punggawa dan pendukung bersuka-cita di atas penderitaan sang pecundang, ditambah lagi langkah gontai kiper yang harus memungut bola dari dalam gawangnya sendiri juga menjadi scene tersendiri.

Pesona perhelatan ini belum berhenti di situ. Masih akan menyajikan banyak kejutan. Pada edisi lalu (EURO 2004), Yunani, di luar dugaan mampu lolos ke babak akhir dan bahkan mengangkat trofi juara setelah di final tim yang ditangani Otto Rehhagel mampu mengalahkan Portugal, sang tuan rumah.

MNC grup, sebagai stasiun televisi pemegang hak siar ajang bal-balan Eropa ini, gampang saja untuk mengutip saweran dari para produsen untuk masang iklan. Kabarnya, baru sepekan Euro 2004 lalu digelar, dana sebesar US 5 juta dolar (sekitar Rp 42 miliar, waktu itu) yang dipake untuk membeli hak siar dan menyiapkan segalanya di dapur produksi RCTI, sudah hampir tertutupi. Wow, benar-benar bisnis menggiurkan !

Masih banyak cerita yang lahir dari pesona Euro ini. Dan yang jelas, sepak bola sebagai olahraga paling populer di jagat ini bikin segalanya gemerlap. Sepak bola sudah menjelma bukan aja sebagai sebuah pertandingan tapi sudah menjadi hiburan, bisnis menggiurkan, dan juga “ideologi”. Walah!

Ajang ini bukan cuma pesta ngumpulin duit bagi negara penyelenggara, tapi juga para pemain dan negara peserta. Tim juara pasti akan mengantongi sekian puluh juta poundsterling (males nyari data pastinya :D). Duit yang mengalir dalam bisnis sepakbola ini pula yang bikin Roman Abramovich, rela membeli klub Chelsea. Orang kaya asal Rusia ini, sepertinya belum puas mengeruk keuntungan dari jual-beli minyak hingga mau terjun di bisnis bola. Kalo saya makan malam cuma dengan narkoba (baca: nasi rames, kopi, dan bakwan) yang bisa dibeli dengan duit 5000 perak, Abramovich menghabiskan makan malam senilai 22 ribu pound (berapa ratus juta rupiah tuh)!

Sekadar suka menonton aksi bintang lapangan hijau, masih dianggap wajar. Tapi kalo sampai nyandu – akut pula. Ini yang kurang wajar. Gimana nggak, kalo orang udah nyandu bola, akal sehatnya bisa jadi udah pindah kemana gitu. Mikirnya jadi pengen yang ringan-ringan aja, dan tentunya segala berbau sepak bola. Gawatnya kalo udah nyandu, maka bagi orang tersebut sepak bola jadi kebutuhan. Kalo udah butuh dan bergantung, sepak bola bagi dirinya adalah agama. Yup, agama baru jaman ini adalah sepak bola. Sampai segitunya...

Bila memakai perspektif Robert N. Bellah tentang civil religion, maka sepak bola boleh dibilang jadi sebuah agama. Civil religion, menurut Bellah, tidak dalam arti agama konvensional. Tapi suatu bentuk kepercayaan dan gugusan nilai dan praktik yang memiliki semacam ”teologi” dan ritual tertentu yang di dalam realisasinya menunjukkan kemiripan dengan agama. Boleh jadi ia adalah sebuah sistem atau praktik-praktik yang tidak ada hubungannya dengan agama.

Bentuk “teologi” dari sepakbola adalah para suporter yang rela membela klub kebanggaannya atau tim nasionalnya. Dukungan pun nggak sekadar bersorak dan jejingkrakan di tribun sepanjang pertandingan berlangsung, tapi seringkali mereka gelap mata dan saking cintanya, mereka rela berkorban demi klub pujaan hatinya. Pokoknya siap gagah-gagahan, bila perlu berjuang sampai titik darah yang penghabisan dalam 2 kali 15 menit perpanjangan baku hantam dengan kesebelasan dan pendukung lawan.

Itu sebabnya, jangan heran kalo kejadian di Hesyel, Belgia pada tahun 1985 saat berlangsung final Liga Champions antara Juventus dan Liverpool. Kebetulan The Reds berhasil dipecundangi oleh Si Nyonya Tua asal Italia dengan kemenangan tipis 1-0 lewat gol Michael Platini dari titik putih. Suporter The Reds yang marah langsung beraksi brutal. Korban nyawa pun berjatuhan mencapai puluhan orang, karena sebagian tribun penonton ambruk.

Ada lagi, sekolompok suporter Madrid yang radikal, “Ultras Sur” namanya. Bagaimana aksinya? Mereka menjadikan stadion Santiago Bernabeu sebagai markas untuk berkumpul dalam merencanakan serangan. Sebagian dari mereka udah menyimpan semua alat ”perang”nya di sebuah toko di sekitar stadion. Begitulah, sepakbola acap kali dianggap sebagai pemuas atas gejolak jiwa para penganggum beratnya. Jadi agama? Sangat boleh jadi.

Mungkin ada orang yang bilang, “Itu kan ulah suporter edan aja!” Betul, tapi itu kan bagian dari hiburan yang mewarnai sepakbola. Tanpa suporter, sepakbola jadi hambar dinikmati. Tapi kalo suporternya beringas kayak gitu, mana tahan? Tapi inilah “aturan” sepakbola sebagai pelengkap permainan.

Eric Hobsbawm menyebutkan bahwa sepak bola adalah salah satu bentuk “tradisi buatan”‌ (invented tradition) ”‌serangkaian praktek, yang dikendalikan oleh aturan tertentu dan memiliki sifat ritualistik serta simbolis”. Jadi jangan heran kalo sepak bola sudah menjadi “agama”‌ baru. Jangan kaget pula jika sebagian suporter klub Manchester United (MU) sampe rela membentangkan spanduk bertuliskan “MU is My Religion”‌ !

Akhirnya kita harus bilang, bahwa selain efektif menggerakkan massa, sepak bola telah menarik gerbong bisnis, dan kemudian menjadikan logika making money sebagai kitab suci. Kalo sudah begini, sepak bola alias soccer benar-benar udah jadi “agama” baru bagi penghuni jagat ini. Udah jadi bagian vital dari kehidupan mereka.

Kalau saya hanya akan termasuk yang sekedar menikmati tradisi lek-lekan demi tontonan ini, ga sampe akut banget lah :D

Friday, May 30, 2008

Lapis terluar diri

Sebuah kurungan bisa amat penting, bisa juga tidak. Tergantung dipandang dari sudut mana dan siapa yang memandang. Namun menurut saya pribadi isi kurungan lebih penting daripada kurungannya.


Pak camat di desa saya dulu punya seekor perkutut yang hebat. Kabarnya, orang dari kota pernah ada yang ingin menukarnya dengan sebuah BMW baru. Itu burungnya. Kurungannya, kata lik Samin lebih mahal daripada rumah lik Samin sendiri yang memang kecil itu. Maklum, namanya juga burung milik Pak Camat. Kurungannya itu fungsional dan itu memang penting. Ganjil bila burung semahal itu dikurung dengan kurungan yang reot dan rapuh.


Kantor, asal-usul keluarga, kesukuan, agama, titel kesarjanaan, partai, organisasi profesi bahkan istri, suami, pakdhe, paman, menurut Mohamad Sobary, itu semuanya kurungan. Nama kita pun sebuah kurungan. Seperti dalam kasus perkutut Pak Camat, antara orang dan namanya harus ada keserasian juga. Kalau tidak, bisa menimbulkan gangguan dan sejumlah persoalan.


Pernah ada seorang petani kampung memberi nama anak laki-lakinya Gerry Partaningrat. Suatu ketika si Ningrat sakit-sakitan, mbah dukun membuat diagnosa bahwa dia keberatan nama. Kalau tidak diganti, kata mbah dukun, bisa gawat. Seandainya orangtuanya pergi ke dokter, bukan ke dukun, persoalannya tentu akan lain. Tapi sudahlah, Gerry Partaningrat diganti menjadi Rekso, dengan kelengkapan upacara kecil, ditandai jenang putih jenang abang. Kontras memang pergantian itu, tapi apa boleh buat, demi keserasian, yang dalam dunia pemikiran Jawa merupakan sesuatu yang penting. Dan Rekso lalu tumbuh makin sehat bahkan sekarang sudah menjadi orang sukses di pulau industri sana.


Dulu para pemuda berebut masuk KNPI, Sebagai kurungan, KNPI menjadi saluran karier politik yang baik. Bagi yang tak punya naluri politik, paling tidak KNPI memberinya identitas tambahan. Fungsi kurungan sebagai identitas menjadi penting bagi mereka yang gila atau krisis identitas.


Namun banyak juga orang yang tidak kurungan oriented. Mereka risih dengan berbagai kurungan. Gelar kesarjanaan tidak usah selalu dipakai. Jas dan segala lambang kuning emas di dada sesekali perlu ditanggalkan. Dan dalam pergaulan sehari-hari tak perlu menonjolkan secara verbal puritansi keagamaannya. Yang Islam tidak perlu memamerkan keislamannya, yang Kristen tak perlu pamer kekristenannya.


Kurungan ya kurungan, ia cuma lapis luar dari diri ini. Kurang begitu penting. Orang macam Emha Ainun, sosok yang terbiasa bebas di bawah langit dengan selimut mega, mungkin sudah sumpek hidup dalam banyak kurungan : dramawan, penyair, budayawan, kolumnis, cendekiawan muda, atau lainnya. Tak terasa aneh jika waktu itu menolak diberi kurungan baru yang gagah : Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Tanpa dikurung dalam ICMI ia sudah sejak lama dijuluki cendekiawan Islam (Muslim). Tanpa kurungan resmi ia sudah “menjadi”. Sementara itu, banyak orang lain mencari kurungan dengan harapan “ingin menjadi”. Di sebuah kesempatan dalam Mocopat Syafaat dia berujar : yang harus kita cari esensi, bukan eksistensi.


Alasan resmi penolakannya untuk join di ICMI waktu itu adalah, “Saya tidak mampu memanggul tugas mulia itu”. Siapa yang menyuruhnya memanggul sesuatu? Dalam tradisi kita, sebuah status tak selalu menuntut peranan. Achievement, umumnya, belum menjadi tekad utama banyak pihak. Jadi kalau seseorang masuk ke sana untuk kemudian duduk lalu diam, sebenarnya orang tersebut toh tak akan banyak dituntut. Masalahnya, ya itu tadi, bahwa kurungan, bagi banyak pihak, lebih penting daripada isinya.