Kemerdekaan, pada hakikatnya, bukanlah semata-mata membebaskan diri dari belenggu penjajahan asing. Tetapi lebih dari itu, kemerdekaan yang hakiki adalah kemampuan untuk membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu memerdekakan dirinya dari berbagai penghambaan selain kepada Tuhannya. Seorang pejabat atau pemimpin yang merdeka adalah pejabat/pemimpin yang mampu membebaskan dirinya dari ambisi-ambisi pribadi (dan keluarganya), dan hanya memikirkan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya. Dia memandang jabatan itu sebagai amanat yang harus dipertangungjawabkan. Seorang cendekiawan yang merdeka adalah yang selalu menyuarakan kebenaran dan keberpihakan kepada masyarakat banyak. Ia tidak akan melakukan upaya pembodohan kepada masyarakat, apalagi dengan menggunakan dalil-dalil dan alasan-alasan yang sengaja didistorsikan atau disalahtafsirkan.
Seorang penegak hukum (hakim, jaksa, polisi maupun pengacara) yang merdeka adalah orang yang memiliki komitmen kuat untuk menjadikan hukum yang benar sebagai panglima. Asas keadilan dan obyektivitas akan benar-benar dijunjungnya. Ia tidak akan berani mempermainkan hukum hanya karena iming-iming jabatan atau materi. Hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.
Seorang pegawai yang merdeka adalah orang yang berusaha mengoptimalkan potensi dirinya untuk meraih prestasi kerja yang baik dan bermanfaat, dengan landasan keikhlasan. Rakyat dan bangsa yang merdeka adalah rakyat yang kritis dan bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kemaslahatan bangsanya. Rakyat yang merdeka tidak mudah diprovokasi oleh unsur-unsur yang tidak bertanggungjawab yang bermaksud menjadikan mereka sebagai obyek perasan dan kuda tunggangan.
Kita sadar betul bahwa kemerdekaan yang sudah berusia lebih dari enam dasawarsa ini belum mampu menghantarkan masyarakat dan bangsa kita kepada kemerdekaan yang hakiki. Kita masih dihadapkan pada kenyataan adanya penjajahan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga krisis demi krisis datang silih berganti seolah tidak akan pernah berakhir. Krisis kepemimpinan, krisis politik, krisis ekonomi, krisis sosial, krisis hukum dan krisis akhlak. Semuanya merupakan pekerjaan rumah yang semakin kompleks dan berat.
Friday, August 17, 2007
Hakikat Kemerdekaan
digoreskan oleh
sayurs
pada
2:29 PM
9
komentar
Thursday, August 16, 2007
Merdeka ?
Tiap tahun rakyat negeri ini merayakan hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus. Kemeriahan pun selalu mengisi momen ini, mulai dari yang ala kadarnya sampai dengan acara yang besar-besaran, seolah-olah kita selama ini hanya tahu kalau kemerdekaan itu sebatas mengingat dan merayakannya tanpa mengetahui makna kemerdekaan yang sebenarnya.
Padahal kalau melihat kondisi Indonesia sekarang jauh dari makna kemerdekaan, dari sisi ekonomi, pendidikan, pemerintahan, sosial, mengalami kemerosotan dan tidak terlepas dari campur tangan pihak asing. Lalu layakkah negeri ini dikatakan sudah merdeka ?
Kemerdekaan yang ada sekarang ternyata bukanlah kemerdekaan yang sesungguhnya, melainkan pengalihan bentuk penjajahan fisik ke penjajahan pemikiran. Bentuk penjajahan gaya baru inilah yang telah membuahkan hasil. Kondisi negeri yang carut-marut tapi tidak merasa terjajah sedikit pun, contohnya dalam masalah ekonomi dengan diterapkannya sistem privatisasi di negara Indonesia, dengan mudah kekayaan alam seperti hutan, pertambangan laut, listrik dan telekomunikasi dikuasai pihak negara "penjajah".
Ternyata kemerdekaan yang diangggap hakiki belum kita dapatkan pada iklim demokrasi yang selama ini katanya diusung sebagai sistem yang ideal. Kemerdekaan yang hakiki sesungguhnya adalah kemerdekaan yang menghargai dan mengangkat harkat derajat hidup manusia. Kayaknya begitu...
digoreskan oleh
sayurs
pada
11:34 PM
2
komentar

