... urip opo anane kadyo ilining banyu, ora kedhuwuren gegayuhan, ora kejeron pasrahe ...

Monday, June 11, 2007

ingin kuliah

Sepasang suami istri sedang bercakap2 dikamar.

Istri : "Pa, pokoknya mama gak mau tau, mama mau kuliah! Malu pa sama Ibu2 arisan, semuanya sarjana, mau taruh dimana muka mama??"
Suami : "Ma, papa setuju saja kalau mama mau kuliah, soal biaya tidak masalah, tapi ma..."

Istri : "Tapi apa??!!! Masalahnya apa???Gak ada kan??Pokoknya mama mau kuliah, titik!!!"
Suami: "Ada satu masalah ma"

Istri : "apa??"
Suami : "Masalahnya, mama cuma tamat SMP....."

Friday, June 8, 2007

banteng

Di Tegal, kampung halamannya, dia bernama Wagiran. Di Jakarta, terutama di kalangan teman-teman seprofesinya, sesama pak ogah, dia biasa dipanggil banteng. Konon, karena dia jagoan minum dan ngelem (nge-fly dengan cara menghirup lem macam aica aibon).
Setiap hari, pagi sampai sore atau sore sampai malam (bergiliran dengan kelompok lain), bersama lima-enam orang temannya, dia "berdinas" di salah satu putaran (u-turn) sebuah ruas di dekat Halim. Mengutip uang recehan dari mobil-mobil yang hendak memutar. Hasilnya lumayan. Kalau nasib lagi baik, sehari bisa dapat seratus ribuan. Seapes-apesnya untuk makan ala kadarnya dapatlah.

Banteng tidak pernah berpikir hari depan. Dapat uang segitu habis segitu.
Kalau bukan untuk makan, ya untuk minum. Kalau pun ada yang masih dia pikir; pekerjaan tetap. Tapi, jaman sulit begini, lagian dia SD saja tidak lulus, mana ada pekerjaan lowong yang bisa digarapnya. Dulu, awal mula dia merantau ke Jakarta pun cuma berbekal niat jadi kuli. Bahwa nasib akhirnya melemparkannya ke pak ogah, rasanya sudah "lebih baik".

Banteng adalah produk sebuah peradaban. Dan bisa jadi, sedikit banyaknya kita ikut membentuk, atau paling tidak melanggengkan, peradaban itu. Adakah cara untuk memutus mata rantai sebuah peradaban? Ah, jangan-jangan berpikir ke arah itu pun kita sudah tidak peduli.